MARKET NEWS

Prospek Minyak Pekan Ini: Konflik Iran Memanas, Harga Berpeluang Lanjut Reli

TIM RISET IDX CHANNEL 09/03/2026 06:34 WIB

Harga minyak mentah berjangka (futures) Amerika Serikat (AS) melonjak 12 persen pada Jumat (7/3/2026) pekan lalu.

Prospek Minyak Pekan Ini: Konflik Iran Memanas, Harga Berpeluang Lanjut Reli. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak mentah berjangka (futures) Amerika Serikat (AS) melonjak 12 persen pada Jumat (7/3/2026) pekan lalu akibat gangguan pasokan minyak global seiring meluasnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Minyak mentah Brent ditutup di level USD92,69 per barel, naik 8,52 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir di USD90,90 per barel, melonjak 12,21 persen.

Dalam sepekan, WTI melonjak 35,63 persen dan Brent naik 27 persen, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi Covid-19 pada 2020 silam.

Untuk hari kedua berturut-turut, minyak mentah berjangka AS naik lebih tinggi dibandingkan Brent.

Hal ini terjadi karena kilang di berbagai negara berebut mencari pasokan minyak alternatif untuk menutup kekosongan akibat terganggunya suplai dari Timur Tengah.

Proyeksi Pekan Ini

Mengutip analis FX Empire, Vladimir Zernov, minyak mentah jenis WTI mencatat momentum kenaikan kuat setelah Trump menyatakan bahwa Iran harus menyerah tanpa syarat.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya tidak tertarik untuk bernegosiasi dengan Iran.

Ia juga membuka kemungkinan bahwa perang dengan Iran baru akan berakhir jika Teheran tidak lagi memiliki militer yang berfungsi atau kepemimpinan yang masih berkuasa.

Sementara itu, mengutip Reuters, Israel menyatakan telah melancarkan serangan baru di berbagai wilayah Iran pada Minggu (8/3).

Pada saat yang sama, kebakaran besar melanda sebuah gedung perkantoran pemerintah di Kuwait setelah terkena serangan drone.

 Konflik yang memicu kekacauan di Timur Tengah dan mengguncang pasar minyak global itu kini telah memasuki pekan kedua.

Trump membenarkan serangan tersebut dengan menyatakan bahwa Iran menimbulkan ancaman yang segera terhadap AS, meski tanpa menyertakan bukti. Ia juga menuduh Iran semakin mendekati kemampuan untuk membangun senjata nuklir.

Di sisi lain, gangguan pasokan mulai muncul di kawasan Teluk. Kuwait dilaporkan terpaksa memangkas produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak. Kondisi ini terjadi setelah jalur pengiriman utama, Strait of Hormuz, masih ditutup akibat konflik.

Penutupan jalur strategis tersebut berpotensi menimbulkan masalah serupa bagi negara produsen lain di kawasan.

Para importir energi kini berlomba mencari pasokan dari wilayah lain, yang pada akhirnya mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.

Laporan terbaru juga menyebutkan bahwa saat ini hanya terdapat sembilan kapal tanker super yang masih kosong di kawasan Teluk.

Jumlah tersebut dinilai tidak cukup untuk menampung produksi minyak selama satu pekan.

Beberapa negara produsen berupaya mencari jalur alternatif untuk menyalurkan ekspor. Arab Saudi mencoba meningkatkan pengiriman dari wilayah Laut Merah, sementara United Arab Emirates memindahkan minyak mentah ke pelabuhan Port of Fujairah.

Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk memastikan stabilitas ekspor jika Selat Hormuz tetap ditutup.

Menurut Zernov, strategi Iran terlihat jelas, yakni mempertahankan penutupan jalur minyak utama dunia selama konflik berlangsung.

Teheran tampaknya berharap tekanan dari komunitas internasional akan meningkat terhadap AS, karena lonjakan harga energi dapat merugikan ekonomi global.

Sementara itu, operasi militer terhadap Iran oleh AS dan Israel masih terus berlangsung. Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Kevin Hassett, mengatakan pemerintah memiliki berbagai instrumen untuk mengatasi kenaikan harga minyak dan menilai masalah tersebut dapat diselesaikan relatif cepat.

Namun, pelaku pasar tampaknya belum yakin gangguan ekspor minyak dari Timur Tengah dapat diatasi dalam waktu dekat.

Secara teknikal, minyak WTI saat ini mencoba menembus area resistance di kisaran USD90,00-USD90,50 per barel. Jika berhasil bertahan di atas level tersebut, harga berpotensi melanjutkan kenaikan menuju kisaran USD94,50-USD95,00.

Sementara itu, minyak mentah Brent dengan mudah melampaui level psikologis USD90,00 dan kini berupaya bertahan di atas resistance USD91,50-USD92,00. Jika tembus, harga Brent berpotensi naik menuju area USD97,00-USD97,50 per barel.

Meski reli harga minyak sangat kuat, Zernov menilai pasar masih berpotensi mengalami aksi ambil untung.

Namun untuk saat ini, kekhawatiran terhadap kekurangan pasokan membuat importir minyak berupaya membeli dari sumber mana pun yang tersedia. (Aldo Fernando)

SHARE