Prospek Saham Indonesia Dinilai Tetap Positif, Investor Menanti Bukti Reformasi Pasar
Prospek pasar saham Indonesia pada paruh kedua 2026 masih dinilai positif, meski investor tetap menunggu kepastian terkait reformasi pasar.
IDXChannel - Prospek pasar saham Indonesia pada paruh kedua 2026 masih dinilai positif, meski investor tetap menunggu kepastian terkait reformasi pasar dan posisi Indonesia dalam indeks global.
Strategis Investasi Senior DBS Group Research Joanne Goh menilai valuasi saham Indonesia yang relatif murah dapat menjadi penopang pemulihan pasar.
"Kami melihat valuasi yang murah atau rendah di Indonesia seharusnya cukup mendukung pemulihan pasar," ujar Goh dalam sebuah paparan.
Selain faktor valuasi, sentimen investor juga berpotensi membaik jika Indonesia tetap mempertahankan statusnya sebagai pasar berkembang (emerging market) dalam evaluasi MSCI pada November mendatang.
“Indonesia diperkirakan masih mempertahankan statusnya sebagai pasar berkembang dalam peninjauan MSCI pada November,” kata Goh.
Menurut Goh, otoritas Indonesia masih memiliki waktu untuk memperbaiki sejumlah aspek reformasi pasar dan menjawab kekhawatiran terkait tata kelola.
DBS Group Research menetapkan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2026 di level 8.000.
Senada, analis UOB Kay Hian menilai konsistensi pelaksanaan kebijakan dan stabilitas makroekonomi menjadi kunci agar saham Indonesia dapat kembali mengalami penguatan berkelanjutan.
Dalam risetnya, UOB menyebut IHSG menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini.
Pada Rabu (1/7/2026), pukul 09.15 WIB, indeks acuan tersebut diperdagangkan di level 5.673, turun tajam 34,38 persen sepanjang 2026.
Meskipun IHSG telah pulih dari titik terendah pada awal Juni, pemulihan tersebut lebih banyak didorong oleh perbaikan sentimen pasar dibandingkan perubahan fundamental ekonomi.
UOB Kay Hian juga menilai otoritas pasar modal Indonesia memiliki waktu hingga November untuk menunjukkan efektivitas reformasi terkait transparansi dan tata kelola.
Langkah tersebut penting untuk mencegah Indonesia turun status menjadi pasar frontier dalam klasifikasi MSCI.
UOB Kay Hian memasang target IHSG akhir 2026 di level 7.500.
Sementara itu, analis Maybank Sekuritas menilai penundaan keputusan MSCI terkait status Indonesia sebagai pasar berkembang belum tentu langsung memicu masuknya dana asing dalam jumlah besar.
"Absennya eskalasi segera memberikan ruang lega dalam jangka pendek dan mengurangi risiko guncangan sentimen negatif yang signifikan," tulis analis Maybank Sekuritas dalam risetnya.
Namun, investor kemungkinan masih akan menunggu hasil evaluasi akhir MSCI pada November sebelum meningkatkan eksposur terhadap aset Indonesia.
Pada saat itu, penyedia indeks global tersebut juga dapat menilai kembali efektivitas reformasi pasar yang telah dilakukan pemerintah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.