MARKET NEWS

Prospek Sektor Batu Bara di Tengah Krisis LNG dan El Niño

TIM RISET IDX CHANNEL 18/05/2026 06:45 WIB

Prospek batu bara dinilai masih solid di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global dan potensi El Niño pada paruh kedua 2026.

Prospek Sektor Batu Bara di Tengah Krisis LNG dan El Niño. (Foto: iStock)

IDXChannel - Prospek batu bara dinilai masih solid di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global dan potensi El Niño pada paruh kedua 2026. Kondisi tersebut dinilai dapat menopang harga batu bara tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Analis Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari dalam riset yang terbit pada 12 Mei 2026 menilai batu bara kini menjadi pilihan paling realistis bagi negara-negara Asia untuk menjaga keamanan energi, terutama setelah gangguan pasokan gas alam cair (LNG) global.

Menurut dia, gangguan di Selat Hormuz sempat memengaruhi sekitar 20 persen pasokan LNG dunia. Sementara itu, fasilitas Ras Laffan milik Qatar yang mewakili sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG global mengalami kerusakan infrastruktur dan belum memiliki kepastian waktu perbaikan.

Kondisi tersebut membuat harga LNG Asia atau Japan Korea Marker (JKM) bertahan tinggi di kisaran USD17 per MMBtu (juta British thermal unit).

Pada level itu, biaya ekuivalen LNG terhadap batu bara mencapai sekitar USD304 per ton, jauh di atas harga batu bara Newcastle yang berada di level USD132 per ton.

“Level switching breakeven berada di kisaran USD7-USD8 per MMBtu, atau kurang dari separuh harga spot LNG saat ini,” tulis Yoga dalam risetnya.

Dia menambahkan, berbeda dengan energi terbarukan atau nuklir yang membutuhkan waktu pengembangan lebih panjang, pembangkit berbasis batu bara dapat langsung dioperasikan dan ditingkatkan kapasitasnya melalui jalur pengadaan yang sudah tersedia.

Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan disebut mulai memperpanjang tenor kontrak batu bara serta membangun kembali cadangan strategis mereka.

Sucor Sekuritas juga menyoroti potensi El Niño sebagai katalis tambahan bagi sektor batu bara pada semester II-2026.

BMKG memperkirakan Indonesia mulai memasuki fase El Niño pada periode Mei-Juni-Juli 2026 dan berlangsung hingga Oktober 2026.

Fenomena tersebut diperkirakan meningkatkan konsumsi listrik untuk pendingin udara di Asia, sehingga mendorong permintaan batu bara dari sektor pembangkit listrik. Di sisi lain, penurunan debit sungai Mahakam dan Barito yang menjadi jalur utama tongkang batu bara Indonesia berpotensi menghambat pengiriman ekspor.

Pada peristiwa El Niño 2023, ekspor batu bara Indonesia tercatat turun sekitar 5 persen secara tahunan. Namun, menurut Yoga, kondisi 2026 lebih ketat karena pasar sudah menghadapi pembatasan pasokan akibat kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Pemerintah sebelumnya menetapkan kuota RKAB batu bara 2026 sebesar 600 juta ton, turun dari realisasi sebelumnya sekitar 778 juta ton.

Kebijakan tersebut dinilai telah memangkas sekitar 178 juta ton pasokan dari pasar batu bara laut global.

Selain itu, wacana kenaikan kewajiban domestic market obligation (DMO) dari 25 persen menjadi 30 persen dinilai dapat semakin memperketat pasokan ekspor Indonesia.

Harga batu bara sendiri masih melanjutkan penguatan pada awal Mei 2026. Harga ICI-4 tercatat naik 2,8 persen secara mingguan ke USD63,56 per ton, sedangkan ICI-3 meningkat 2,1 persen menjadi USD80,7 per ton.

Menurut Yoga, kenaikan harga minyak dunia yang kini berada sekitar dua kali lipat dibanding sebelum perang turut meningkatkan biaya produksi batu bara. Pasalnya, biaya bahan bakar menyumbang sekitar 20-25 persen dari total biaya tunai penambangan.

Di tengah kondisi tersebut, Sucor Sekuritas kembali merekomendasikan beli untuk saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp30.100 per saham.

“AADI memiliki posisi biaya produksi yang rendah, volume yang stabil, dan kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat sehingga mendukung ketahanan laba,” kata Yoga.

Meski demikian, dia mengingatkan potensi kenaikan royalti, windfall tax, hingga tarif ekspor masih menjadi risiko yang perlu dicermati karena dapat membatasi kenaikan laba emiten batu bara. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE