MARKET NEWS

Rilis Data Ekonomi Global dan Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar di Awal Maret 2026

Nia Deviyana 02/03/2026 06:30 WIB

Konflik di Timur Tengah menjadi kekhawatiran bagi investor, terutama terhadap kemungkinan perebutan kekuasaan di Iran serta perang kawasan yang berkepanjangan.

Rilis Data Ekonomi Global dan Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar di Awal Maret 2026. Foto: Pixabay.

IDXChannel - Serangkaian rilis data ekonomi utama dan peristiwa diperkirakan membentuk sentimen pasar pada pekan pertama Maret 2026. Amerika Serikat (AS) akan merilis laporan ketenagakerjaan resmi untuk Februari, setelah serangkaian indikator pasar tenaga kerja yang solid membuat pelaku pasar menunda ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga berikutnya oleh Federal Reserve (The Fed). 

Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur versi ISM dan data penjualan ritel juga akan menjadi sorotan di AS.

Data PMI Manufaktur juga dijadwalkan rilis di China, Kanada, Korea Selatan, serta negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Sementara itu, konflik di Timur Tengah kini menjadi kekhawatiran utama bagi investor, terutama terhadap kemungkinan perebutan kekuasaan di Iran serta perang kawasan yang berkepanjangan. Serangan militer AS-Israel ke Iran akan mempengaruhi berbagai aspek mulai dari perdagangan global hingga inflasi.

Sebelumnya, eskalasi tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu pekan lalu, disusul Iran yang membalas dengan menyerang kota-kota di kawasan Teluk, maskapai menghentikan penerbangan, dan kapal tanker yang mengangkut minyak serta komoditas lainnya, menangguhkan pelayaran yang melalui Selat Hormuz.

Risiko pertama bagi pasar adalah ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya di Iran, mengingat kompleksitas sistem pemerintahan Republik Islam tersebut, sifat ideologis basis pendukungnya, serta besarnya pengaruh Garda Revolusi.

Hal ini kemudian memperumit prospek harga minyak yang telah naik selama beberapa pekan terakhir, namun kini sangat bergantung pada langkah negara-negara produsen minyak dan bagaimana kelancaran pelayaran kapal tanker di Timur Tengah akan terdampak. Situasi ini berimplikasi besar terhadap inflasi global, bahkan terhadap keamanan obligasi yang selama ini dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Indonesia

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis sejumlah data ekonomi terkait ekspor impor, inflasi, dan data strategis lainnya. 

Sebelumnya, inflasi tahunan Januari melonjak ke titik tertinggi dalam 37 bulan terakhir dan berada sedikit di atas batas atas target Bank Indonesia (BI) 2,5±1 persen. 

Angka inflasi pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen (year on year/YoY), jauh lebih tinggi dibandingkan 0,76 persen (YoY) pada Januari 2025. 

Kenaikan ini disebabkan low base effect dari penerapan diskon tarif
listrik pada Januari hingga Februari tahun lalu. 

Oleh sebab itu, lonjakan hanya dirasakan secara tahunan, sementara basis bulanan mencatat deflasi 0,15 persen (mtm). 

Tren deflasi bulanan pada awal tahun ini berlanjut dari tahun lalu yang mencapai 0,76 persen (mtm) seiring dengan siklus normalisasi sebagian harga pangan dan biaya transportasi.

Adapun sebelumnya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah merilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 yang tercatat sebesar 54,02. 

Atipis 0,10 poin dibandingkan Januari 2026, namun meningkat 0,87 poin dibandingkan Februari 2025 dan menjadi level tertinggi kedua sejak IKI diluncurkan pada November 2022.

(NIA DEVIYANA)

SHARE