MARKET NEWS

Rupiah Dekati Rp18.000 Tertekan Gejolak Timur Tengah dan Inflasi

Anggie Ariesta 03/06/2026 17:04 WIB

Pengamat pasar uang mengatakan, pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Rupiah Dekati Rp18.000 Tertekan Gejolak Timur Tengah dan Inflasi (Foto: dok iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah berakhir melemah 127,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per USD pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah

Investor mencermati operasi militer Israel di Lebanon selatan, serangan rudal balistik Iran ke Kuwait dan Bahrain, serta serangan pasukan Amerika Serikat di Pulau Qeshm, Iran.

"Pulau tersebut berada di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia," tulis Ibrahim dalam risetnya, Rabu (3/6/2026).

Pelaku pasar juga menyoroti perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Meski kedua negara sebelumnya menyatakan telah mencapai kerangka kesepakatan untuk meredakan konflik, hingga kini belum ada persetujuan resmi. Kondisi itu memicu ketidakpastian di pasar global.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Sentimen tersebut diperkuat oleh data lowongan kerja AS yang meningkat pada April 2026, menandakan pasar tenaga kerja masih solid.

Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, indeks jasa ISM, dan data pesanan pabrik, menjelang rilis data nonfarm payrolls pada Jumat.

Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah turut tertekan setelah inflasi Mei 2026 tercatat 0,28 persen secara bulanan, naik dari 0,13 persen pada April. Secara tahunan, inflasi Indonesia mencapai 3,08 persen.

Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh harga pangan bergejolak (volatile food), harga energi, tarif yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus sebesar USD89,1 juta, memperpanjang trend surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus tersebut ditopang oleh perdagangan nonmigas yang membukukan surplus USD3,53 miliar.

Meski demikian, Ibrahim menilai surplus perdagangan April menyusut tajam. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan terhadap daya beli dan ketahanan eksternal, di tengah terganggunya pasokan global akibat ketidakpastian di Selat Hormuz yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda normalisasi.

Berdasarkan kondisi tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.960-Rp18.030 per USD pada perdagangan berikutnya.

(DESI ANGRIANI)

SHARE