MARKET NEWS

Rupiah Melemah Nyaris 1 Persen dalam Sepekan, Tertekan Fiskal dan Suku Bunga AS

Anggie Ariesta 30/05/2026 13:30 WIB

Rapor merah rupiah sepanjang pekan ini sangat dipengaruhi oleh persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik dan suku bunga AS.

Rupiah Melemah Nyaris 1 Persen dalam Sepekan, Tertekan Fiskal dan Suku Bunga AS. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannelNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini bergerak kurang menggembirakan. Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (29/5/2026), mata uang Garuda terus merosot akibat tekanan sentimen pengetatan fiskal di dalam negeri serta tingginya ketidakpastian moneter di Amerika.

Mengutip data dari Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,20 persen secara harian dan mendarat di level Rp17.881 per dolar AS. Jika dikalkulasi dalam kurun waktu sepekan, mata uang domestik telah terdepresiasi sebesar 0,91 persen dibandingkan posisi Jumat (22/5/2026) pekan lalu yang berada di level Rp17.717 per dolar AS.

Koreksi serupa juga tecermin dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), di mana Rupiah melemah 0,52 persen secara harian ke posisi Rp17.883 per Dolar AS.

Dalam evaluasi mingguan, kurs Jisdor mencatat pelemahan sebesar 0,93 persen dari posisi pekan lalu yang juga berada di angka Rp17.717 per Dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa rapor merah rupiah sepanjang pekan ini sangat dipengaruhi oleh persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Sorotan tajam dari lembaga pemeringkat kredit global seperti S&P Global, Moody’s, dan Fitch Ratings terhadap prospek defisit serta ketatnya ruang anggaran belanja negara turut menggerus tingkat kepercayaan investor.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia ikut memicu pembengkakan biaya impor energi nasional. Fenomena ini otomatis mendongkrak volume permintaan valas di pasar domestik, yang berujung pada penyusutan surplus neraca perdagangan karena pasokan dolar AS yang masuk dari sektor ekspor cenderung melambat.

“Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN,” ujar Ibrahim, Jumat (29/5/2026).

Faktor eksternal dari rilis data makroekonomi AS turut memberikan andil besar. Pertumbuhan ekonomi AS dilaporkan melambat ke angka 1,6 persen dari estimasi sebelumnya sebesar 2 persen.

Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS merilis Klaim Pengangguran Awal yang membengkak menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui ekspektasi pasar di angka 211.000.

Kendati pertumbuhan melambat, tingkat inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE utama) AS justru bertahan tinggi di level 3,8 persen pada Maret 2026. Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

“Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Ibrahim.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut bahwa fokus investor pada pekan depan akan tertuju pada rilis data inflasi dan kinerja perdagangan Indonesia terbaru.

Konflik geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak mentah global juga tetap menjadi radar utama pasar, di samping rilis data penting AS seperti indeks ISM dan Non-Farm Payrolls (NFP).

“Investor juga akan mencermati dimulainya penerapan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE),” kata Lukman.

Untuk rentang pergerakan sepekan ke depan, Lukman memproyeksikan rupiah akan berfluktuasi secara melebar di kisaran Rp17.700 hingga Rp18.200 per dolar AS. Sementara itu, Ibrahim memprediksi mata uang domestik akan bergerak pada rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE