Rupiah Menguat ke Rp17.748, Pasar Cermati Gejolak Hormuz hingga Kebijakan BBM
Penguatan rupiah terjadi di tengah beragam sentimen eksternal dan domestik yang masih membayangi pasar.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 92 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.748 per USD pada Kamis (20/8/2026).
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah terjadi di tengah beragam sentimen eksternal dan domestik yang masih membayangi pasar.
Dari eksternal, pasar mencermati potensi kebuntuan berkepanjangan di Selat Hormuz setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan memberlakukan pembatasan ekonomi tambahan terhadap Iran.
“Trump tidak merinci bentuk pembatasan baru tersebut, namun ia mendesak sekutu AS untuk turut serta dalam langkah ini,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (20/8/2026).
Trump juga memperingatkan negara mana pun agar tidak melakukan bisnis dengan Iran. Dia menyebut rencana tersebut sebagai operasi ekonomi paling melumpuhkan yang pernah diterapkan terhadap negara manapun.
Pada Rabu (19/8/2026), Trump kembali menegaskan klaim bahwa AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Dia juga menyebut perundingan dengan Iran masih dapat dilanjutkan pada suatu waktu.
Iran saat ini masih menghadapi sanksi ketat AS terkait ekspor minyak. Washington juga memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran di tengah konflik yang berlangsung.
Data terbaru menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menurun. Sebagian besar pemilik kapal memilih menghindari jalur perairan strategis tersebut lantaran belum ada kepastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran setelah sempat ditutup akibat konflik Iran.
Situasi tersebut berpotensi menjaga tekanan terhadap pasokan energi global dan meningkatkan volatilitas harga minyak.
Di sisi lain, pasar juga merespons langkah Departemen Keuangan AS yang meningkatkan program pembelian kembali (buyback) surat berharga pemerintah jangka panjang untuk mendukung likuiditas sekaligus mengendalikan biaya pinjaman.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin (bps), sedangkan yield tenor 30 tahun merosot hampir 9 bps setelah pengumuman peningkatan volume buyback tersebut.
Investor juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) Juli. Risalah tersebut menunjukkan sejumlah pembuat kebijakan masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan yang berkelanjutan.
The Fed mempertahankan target suku bunga federal funds pada kisaran 3,5-3,75 persen dalam pertemuan Juli. Sejumlah pejabat bahkan menilai diperlukan tindakan lebih lanjut untuk memastikan inflasi kembali menuju target.
Kebijakan BBM Jadi Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, pasar merespons positif rencana pemerintah untuk memangkas kuota BBM bersubsidi secara signifikan pada 2027. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengendalikan subsidi energi.
Pemangkasan kuota hingga 58,5 persen berpotensi memperketat akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi, khususnya Pertalite.
Di sisi lain, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar USD75 per barel dalam RAPBN 2027. Asumsi tersebut masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran USD83 per barel.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kebijakan subsidi BBM berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Pembatasan kuota yang signifikan berpotensi meningkatkan pengeluaran masyarakat apabila harus beralih ke BBM nonsubsidi.
“Karena itu, kebijakan pengendalian subsidi BBM perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya transportasi,” kata Ibrahim.
Selain kebijakan subsidi energi, investor masih bersikap hati-hati menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal II-2026 yang dijadwalkan pekan ini.
Defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2026 sempat melebar ke level tertinggi sejak 2019. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya kinerja perdagangan di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.700-Rp17.750 per USD pada perdagangan berikutnya.
(DESI ANGRIANI)