MARKET NEWS

Saham Nikel NICL-INCO Cs Melonjak, Dua Emiten Ini Jadi Sorotan

TIM RISET IDX CHANNEL 06/01/2026 07:18 WIB

Saham emiten tambang nikel kompak menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026).

Saham Nikel NICL-INCO Cs Melonjak, Dua Emiten Ini Jadi Sorotan. (Foto: Harum Energy)

IDXChannel – Saham emiten tambang nikel kompak menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) ditutup melejit 6,50 persen ke level Rp1.475 per unit, disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang mendaki 6,44 persen menjadi Rp2.480 per unit.

Kemudian, saham PT Timah Tbk (TINS) melonjak 5,73 persen ke Rp3.320 per unit, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terkerek 5,66 persen, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) naik 4,49 persen.

Nama-nama lainnya, saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) tumbuh 1,94 persen, PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) terapresiasi 1,49 persen, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) 1,29 persen, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) 0,81 persen.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan prospek saham nikel seiring rencana Indonesia sebagai produsen utama dunia untuk memangkas pasokan demi mendorong harga.

Michael mengatakan, kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor nikel. “Saat ini harga nikel LME sendiri sudah menyentuh kenaikan 12-13 persen year to date (YtD),” katanya, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, jika tren kenaikan harga tersebut mampu berlanjut, dampaknya akan terasa langsung pada kinerja keuangan emiten.

Dari sisi teknikal, Michael Yeoh menilai sejumlah saham nikel mulai menunjukkan perbaikan pola pergerakan harga. “INCO dan MBMA memiliki pola reversal yang memiliki upside cukup baik,” imbuh dia.

Kabar terbaru, mengutip pemberitaan media daring, Senin (5/1), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan relaksasi sementara bagi pemegang izin usaha pertambangan untuk tetap menjalankan kegiatan eksplorasi dan produksi.

Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Nomor 2.E/HK.03/DJB/2025.

Dalam aturan tersebut dijelaskan, perusahaan tambang yang Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026-nya telah disetujui sebelum berlakunya ketentuan baru tetap diwajibkan melakukan penyesuaian dan mengajukan RKAB ulang.

Namun, apabila penyesuaian tersebut sudah diajukan tetapi belum memperoleh persetujuan hingga akhir periode berjalan, perusahaan masih diperbolehkan menggunakan RKAB lama sebagai acuan sementara.

Relaksasi ini disertai pembatasan, yakni kegiatan produksi maksimal hanya boleh mencapai 25 persen dari rencana produksi 2026. Ketentuan sementara tersebut berlaku hingga 31 Maret 2026.

Sementara itu, harga nikel naik ke level USD16.851,00 per ton pada 2 Januari 2026, tertinggi sejak Oktober 2024, setelah sebelumnya sempat menguji level terendah empat tahun di USD14.350 pada 16 Desember.

Kenaikan ini terjadi seiring pasar meninjau ulang pandangan bahwa pasokan nikel berada dalam kondisi berlebih.

Dalam empat pekan terakhir, harga nikel menguat 12,86 persen, sementara dalam 12 bulan terakhir tercatat naik 10,16 persen.

Mengutip Trading Economics, Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34 persen dalam anggaran 2026.

Langkah ini ditempuh untuk merespons kekhawatiran atas kelebihan pasokan serta peringatan dari pelaku tambang terkait penurunan kadar bijih.

Kebijakan tersebut menjadi upaya terbaru untuk menekan surplus, menyusul ekspansi besar-besaran sektor nikel setelah Indonesia melarang ekspor bijih pada 2020.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga berencana merevisi formula harga acuan bijih nikel, termasuk kemungkinan memisahkan produk sampingan seperti kobalt serta menerapkan royalti. Kebijakan ini berpotensi semakin memperketat pasokan.

Analis menilai pembatasan produksi tersebut akan menopang harga, terutama di saat harga nikel masih berada di dekat biaya produksi (production cost) di sejumlah wilayah pertambangan utama.

Singkatnya, produksi nikel Indonesia kini menjadi faktor kunci dalam prospek harga nikel setahun depan. Pemerintah memiliki kemampuan mengendalikan pasokan dengan memperketat penerbitan kuota pertambangan yang dikenal sebagai RKAB. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE