Saham PIPA Volatil, Transformasi di Bawah Morris Capital Dinilai Jadi Potensi
PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) memasuki babak baru pasca pengambilalihan kendali oleh PT Morris Capital Indonesia (MCI).
IDXChannel - PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) memasuki babak baru pasca pengambilalihan kendali oleh PT Morris Capital Indonesia (MCI). Rencana MCI mengakuisisi sekitar 49 persen saham PIPA dinilai bukan hanya sekadar pergantian kepemilikan, melainkan membawa visi besar untuk mentransformasi PIPA dari produsen pipa konvensional menjadi pemain utama dalam ekosistem energi dan infrastruktur nasional.
Secara fundamental, masuknya Morris Capital dinilai membawa angin segar yang sangat signifikan. Rencana suntikan aset jumbo hingga senilai Rp3 triliun oleh MCI menunjukkan komitmen serius untuk memodali ekspansi bisnis PIPA.
PIPA berencana melakukan diversifikasi ke sektor-sektor strategis, terutama Oil & Gas, distribusi BBM, logistik energi darat-laut, serta infrastruktur penyimpanan dan distribusi bahan bakar. Transformasi ini menjadikan PIPA sebagai penghubung vital dalam rantai pasok energi dari hulu ke hilir.
Dengan fokus pada pengembangan produk berbasis polyethylene, seperti pipa HDPE dan produk utilitas sejenis, PIPA siap mengambil peran lebih luas dalam proyek konstruksi, utilitas, dan infrastruktur nasional yang tengah gencar.
Hingga September 2025, PIPA mencatat pendapatan usaha positif yang tumbuh 30,5 persen, didominasi oleh segmen produk pipa. Dukungan modal dari pengendali baru diharapkan melipatgandakan kinerja ini melalui proyek-proyek energi yang lebih besar.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menilai langkah strategis ini memberikan potensi fundamental yang luar biasa bagi PIPA.
"Dengan skema injeksi aset sebesar Rp3 triliun, PIPA berpotensi keluar dari bayang-bayang masa lalunya dan menjadi bagian penting dalam tulang punggung energi Indonesia. Langkah integrasi vertikal yang dilakukan Morris Capital, dari pipa plastik ke energi strategis, adalah langkah yang sangat cerdas. Kunci keberhasilan ada pada eksekusi dan keberlanjutan proyek-proyek energi yang akan dijalankan PIPA ke depan," katanya, Rabu (7/1/2026).
Secara teknikal, pergerakan saham PIPA sangat mencerminkan ekspektasi pasar yang tinggi terhadap transformasi ini. Saham PIPA sempat mencetak kenaikan fantastis di tahun 2025 sebelum mengalami koreksi tajam.
Beberapa indikator teknikal, seperti RSI 14-hari dan MACD, seringkali menunjukkan sinyal Buy atau Netral pada harga-harga koreksi, namun investor disarankan untuk tetap waspada mengingat kenaikan dan koreksi tajam yang telah terjadi. Rata-rata bergerak jangka pendek (MA5, MA50) bisa memberikan sinyal Buy namun rata-rata bergerak jangka panjang (MA200) mungkin masih menunjukkan sinyal jual pasca koreksi besar.
Level harga saat ini dinilai sebagai titik tarik-menarik antara sentimen jangka pendek yang cenderung negatif dan potensi fundamental jangka panjang yang sangat positif.
"Pergerakan saham PIPA saat ini adalah cermin ekspektasi pasar terhadap transformasi ini. Investor harus melihat PIPA sebagai saham yang berada dalam zona yang sangat fluktuatif," kata Hendra.
"Oleh karena itu, jangan hanya melihat teknikal sesaat, tapi cermati pengumuman-pengumuman berikutnya dari manajemen Morris Capital. Saham ini lebih sesuai bagi investor dengan profil agresif yang siap menghadapi risiko tinggi, dengan fokus pada realisasi rencana bisnis multi-tahun ke depan," ujarnya.
Akuisisi PIPA oleh Morris Capital secara fundamental membuka gerbang bagi PIPA untuk menjadi raksasa baru di sektor energi nasional dengan suntikan modal dan diversifikasi bisnis yang masif. Secara teknikal, saham PIPA masih berada dalam fase volatilitas tinggi, menjadikannya menarik bagi investor jangka panjang yang agresif, namun disarankan untuk selalu mencermati perkembangan proyek dan kinerja aktual perusahaan di bawah pengendali baru.
(Rahmat Fiansyah)