S&P 500 dan Nasdaq Anjlok, Tertekan Tarif Baru Trump dan Eskalasi Perang Timur Tengah
Indeks S&P 500 dan Nasdaq anjlok imbas kekhawatiran investor terhadap kebijakan tarif baru dan meningkatnya risiko dari perang Timur Tengah.
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, dibuka beragam pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Indeks S&P 500 dan Nasdaq anjlok imbas kekhawatiran atas pengeluaran AI menutupi laporan pendapatan perusahaan yang baru, sementara investor juga mempertimbangkan kebijakan tarif baru dan meningkatnya risiko dari perang Timur Tengah.
Dilansir Reuters, Jumat (24/7/2026), Dow Jones Industrial Average naik 93,49 poin atau 0,18 persen menjadi 51.805,14, S&P 500 turun 6,65 poin atau 0,09 persen ke level 7.401,65, dan Nasdaq Composite melemah 155,55 poin, atau 0,62 persen menuju 24.982,14.
Intel menambah daftar perusahaan yang melaporkan laporan keuangannya pada pekan ini. Laba dan pendapatan perusahaan diperkirakan di atas perkiraan dan menguraikan rencana untuk meningkatkan pengeluaran selama dua tahun ke depan. Saham pembuat chip tersebut turun 3,8 persen meskipun hasilnya menggembirakan.
"Dengan AI tetap menjadi tema investasi dominan, pasar menjadi semakin selektif, menghargai eksekusi yang kuat sambil menunjukkan toleransi yang lebih rendah terhadap pengeluaran yang tinggi tanpa jalur yang jelas menuju pengembalian," kata Analis Pasar Senior di Capital.com, Daniela Hathorn.
Sektor real estat naik 2,3 persen dan memimpin kenaikan pada indeks acuan. Namun, penurunan pada saham teknologi informasi yang berbobot berat membatasi kenaikan tersebut.
Sementara itu, pemerintahan Trump memberlakukan tarif baru sebesar 10 persen dan 12,5 persen pada barang-barang dari 60 negara mitra dagang, dengan alasan penegakan yang longgar terhadap larangan kerja paksa. Langkah ini dilakukan setelah tarif global sementara sebesar 10 persen berakhir.
Risiko geopolitik menjadi fokus setelah rudal AS menghantam target di seluruh Iran pada Jumat menyusul peringatan Presiden Donald Trump tentang hukuman militer besar bagi Teheran dan sekutu Houthi-nya di Yaman.
Harga minyak melonjak di atas USD100 per barel pada Kamis karena investor menilai kembali risiko gangguan pasokan energi yang berkepanjangan.
Meskipun harga turun pada Jumat, guncangan energi yang berkelanjutan dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi global dan mendorong bank sentral untuk menyesuaikan kembali kebijakan moneter.
Bank Sentral AS, Federal Reserve, dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pekan depan, dengan pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga sekitar satu banding tiga, naik dari 12 persen seminggu sebelumnya.
Investor juga akan memperhatikan data PCE pekan depan, indikator inflasi pilihan Fed, yang akan dirilis sehari setelah keputusan kebijakan.
Data menunjukkan, aktivitas di sektor jasa AS meningkat pada Juli, sebagian besar ditopang oleh pengeluaran seputar Piala Dunia 2026 dan liburan Hari Kemerdekaan, sementara laju pertumbuhan di sektor manufaktur melambat ke tingkat terendah sejak Maret.
(Dhera Arizona)