MARKET NEWS

Strategi Investasi di Tengah Risiko Stagflasi, Sektor Saham Ini Jadi Sorotan

TIM RISET IDX CHANNEL 07/04/2026 07:08 WIB

Risiko stagflasi yang membayangi perekonomian global mulai memengaruhi strategi investasi di pasar saham Indonesia.

Strategi Investasi di Tengah Risiko Stagflasi, Sektor Saham Ini Jadi Sorotan. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Risiko stagflasi yang membayangi perekonomian global mulai memengaruhi strategi investasi di pasar saham Indonesia.

Dalam kondisi ekonomi yang berpotensi melemah namun tekanan harga tetap tinggi, investor dinilai perlu lebih selektif dengan memprioritaskan emiten berfundamental kuat dan memiliki daya tahan terhadap gejolak makro.

Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra dalam riset tertanggal 2 April 2026 menilai pasar saat ini berada dalam bias stagflasi, yakni kecenderungan pelaku pasar melihat ekonomi lemah namun biaya tetap tinggi meski bukti pendukungnya belum sepenuhnya kuat.

Karena itu, investor disarankan fokus pada perusahaan dengan pricing power kuat, neraca sehat, dan arus kas stabil.

Arief merekomendasikan strategi alokasi modal dengan komposisi compounders 70 persen, trading 20 persen, dan likuiditas 10 persen. Pendekatan ini bertujuan menjaga stabilitas portofolio sekaligus memanfaatkan volatilitas pasar sebagai peluang mispricing.

Saham pilihan utama Sucor Sekuritas mencakup emiten telekomunikasi EXCL, WIFI, dan ISAT, bank besar BBCA, BBRI, dan BMRI, sektor consumer goods MYOR dan INDF, serta emiten transportasi dan logistik ASSA.

Dari sisi sektoral, telekomunikasi diperkirakan menjadi pemimpin, sementara sektor konsumer berpotensi tertinggal dan perbankan tetap relatif tangguh.

Operator mobile broadband dinilai berada dalam posisi kuat karena mampu menaikkan tarif dan menikmati pertumbuhan trafik data yang berkelanjutan.

Konsolidasi industri telekomunikasi dari lima operator menjadi tiga pemain oligopoli menjadi titik balik penting.

Disiplin harga mulai terlihat dan seluruh operator mampu mempertahankan free cash flow margin sekitar 15-25 persen, seiring data seluler yang kini menjadi kebutuhan dasar.

Trafik data diperkirakan meningkat hingga empat kali lipat pada 2030, didorong oleh ekspansi 5G, digitalisasi, dan konsumsi video.

Di sisi lain, sektor konsumer diperkirakan menghadapi tekanan sementara akibat pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan baku dan kemasan, serta dampak konflik Timur Tengah yang mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Kondisi ini berpotensi menekan daya beli kelas menengah dan membuat perusahaan sulit menaikkan harga jual.

Sementara itu, sektor perbankan dinilai relatif stabil meski pertumbuhan kredit berpotensi melambat.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun menjadi sekitar 7,1 persen sejak awal tahun tidak sepenuhnya menekan biaya dana (CoF) karena likuiditas pemerintah masih kuat, meski ketidakpastian global membuat ekspansi kredit lebih hati-hati. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE