Transformasi Bikin Laba Tumbuh 954,2 Persen, TPIA Diklaim Ubah Peta Industri di Asia Tenggara
Moncernya pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi disiplin melalui keberhasilan integrasi aset energi yang baru diakuisisi di Singapura
IDXChannel - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi mengakhiri era bisnis lamanya di sektor petrokimia tradisional, dan beralih ke bisnis energi terintegrasi, yang mencakup sektor energi, kimia dan juga infrastruktur.
Proses transformasi tersebut diklaim manajemen telah berjalan sesuai harapan, dengan bukti lonjakan kinerja di triwulan I-2026, yang bahkan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah operasional Perseroan.
Misalnya saja dalam hal EBITDA, di mana secara kuartalan terbukti mencapai USD421 juta, serta laba bersih yang sebesar USD205 juta. Nilai capaian tersebut mencerminkan lonjakan luar biasa dibanding realisasi pada tiga bulan pertama 2025 lalu, dengan porsi pertumbuhan masing-masing hingga 1.813,6 persen dan 954,2 persen.
"Pertumbuhan pesat ini didorong oleh integrasi segmen energi, yang kini menjadi kontributor terbesar dengan porsi 60 persen terhadap total pendapatan kami," ujar Chief Financial Officer TPIA, Andre Khor, dalam keterangan resminya, Senin (4/5/2026).
Moncernya pencapaian ini, menurut Andre, merupakan hasil dari transformasi disiplin melalui keberhasilan integrasi aset energi yang baru diakuisisi di Singapura.
Andre menjelaskan bahwa strategi bisnis TPIA kini lebih berpijak pada fondasi infrastruktur regional, di mana fokus utama terletak pada keberhasilan integrasi kilang Aster (sebelumnya Shell Energy & Chemicals Park) yang diakuisisi pada April 2025, serta jaringan bahan bakar ritel merek Esso di Singapura yang diakuisisi dari ExxonMobil pada Januari 2026.
"Kami bekerja keras untuk memastikan kelancaran dari proses penyelesaian transaksi yang kompleks bersama Shell, CPSC, dan ExxonMobil berjalan lancar," ujar Andre.
Akuisisi ini, bersama dengan unit infrastruktur Grup, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), serta pusat layanan bersama yang baru beroperasi, Chandra Asri Sentral Solusi (CASS), kini memberikan pendapatan berulang (recurring income) dan efisiensi operasional yang diperlukan untuk menghadapi volatilitas pasar global.
Berbeda dengan pemain regional lainnya, Chandra Asri Group diklaim Andre mampu memanfaatkan kemitraan strategis dengan Glencore, salah satu pedagang komoditas global dan produsen sumber daya alam terdiversifikasi terkemuka dunia, untuk mendiversifikasi bahan baku (feedstock).
Di saat kompetitor seringkali terbatas oleh jalur pasokan tradisional, Grup menunjukkan ketangkasan dengan secara aktif mencari dan menguji minyak mentah (crude) dari Amerika Latin, Amerika Utara, Afrika Barat, dan Asia Tenggara.
Seperti terkait gangguan geopolitik, terutama risiko eskalasi di Timur Tengah yang berdampak pada Selat Hormuz, yang secara historis menciptakan kecemasan dalam rantai pasok.
"Namun, kemampuan kami dalam perluasan jenis minyak mentah dan kemampuan pengadaan global memungkinkan perusahaan untuk melewati hambatan konvensional demi menjaga operasional tetap lancar terlepas dari volatilitas regional," ujar Andre.
Ketangkasan operasional ini teruji pada Februari 2026 lalu, saat Perseroan berhasil menyelesaikan uji coba teknis yang meningkatkan kapasitas produksi pabrik Butene-1 dan MTBE di Cilegon hingga 25 persen.
Dengan mengolah minyak mentah dan produk intermediate yang kompetitif ini, Grup berhasil mempertahankan tingkat utilisasi yang tinggi dan hasil produk yang unggul, bahkan di tengah kondisi petrokimia global yang menantang.
Andre juga menyatakan bahwa kekuatan finansial selalu menjadi andalan TPIA sebagai benteng strategis dalam menghadapi berbagai tekanan dan tantangan yang ada di pasar.
"Kemampuan Grup untuk mengeksekusi strategi M&A secara terprogram berasal dari posisi keuangan yang sangat kokoh. Manajemen berhasil menghimpun pendanaan pada waktu yang tepat, sehingga menghasilkan likuiditas sebesar USD3,8 miliar," ujar Andre.
Hal ini, dikatakan Andre, telah memposisikan Grup untuk melanjutkan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai USD800 juta bekerja sama dengan Indonesia Investment Authority (INA) dan Danantara, yang kini telah mencapai progres 60 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 mendatang.
Berdasarkan laporan keuangan interim konsolidasian yang tidak diaudit per triwulan I-2026, struktur modal TPIA tercermin kuat berdasarkan data current ratio sebesar 3,09x, EBITDA coverage 4,01x, dan Long Term Debt to Equity sebesar 1,1x.
"Posisi ini memberikan bantalan fiskal yang kuat untuk menavigasi siklus pasar sambil terus mengejar ekspansi regional. Selain itu, cadangan ini juga mencakup pinjaman terkait keberlanjutan (sustainability-linked loan) senilai USD1 miliar yang diperoleh pada September 2025, yang merupakan pinjaman perdana dari jenisnya dalam sektor ini untuk mendukung modal kerja dan inisiatif peremajaan aset Aster," ujar Andre.
(taufan sukma)