MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Lesu, Investor Pilih Jeda Setelah Rally Saham Keuangan

Dhera Arizona Pratiwi 06/01/2026 22:00 WIB

Indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, dibuka lesu pada perdagangan Selasa (6/1/2026).

Wall Street Dibuka Lesu, Investor Pilih Jeda Setelah Rally Saham Keuangan. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, dibuka lesu pada perdagangan Selasa (6/1/2026). Investor memilih beristirahat sejenak setelah indeks utama mencatatkan kenaikan intraday terbesar dalam beberapa pekan pada sesi sebelumnya.

Selain itu, pasar juga tengah bersiap menghadapi pekan yang sarat data laporan ketenagakerjaan.

Dilansir dari laman Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 10,2 poin atau 0,02 persen menjadi 48.987,36. Kemudian, indeks S&P 500 hanya mencatatkan kenaikan 6,0 poin atau 0,09 persen menjadi 6.908,03, pun dengan Nasdaq Composite yang naik 51,1 poin atau 0,22 persen ke level 23.446,959.

Saham sektor energi mencatatkan kenaikan lebih kecil seharian kemarin setelah lonjakan yang lebih besar. Chevron dan Exxon keduanya naik kurang dari 1 persen sebelum pasar saham AS dibuka pada hari ini.

Pasar minyak menjadi fokus utama setelah pengambilalihan Venezuela oleh AS. Industri minyak Venezuela telah hancur akibat pengabaian dan sanksi internasional dan mungkin membutuhkan investasi besar selama bertahun-tahun untuk mengembalikan tingkat produksi sebelumnya.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, AS berencana untuk mengambil alih industri minyak Venezuela dan meminta perusahaan-perusahaan Amerika untuk merevitalisasinya.

Saham teknologi, terutama perusahaan yang mengembangkan kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan pada pekan ini karena industri tersebut memulai pameran dagang CES tahunannya di Las Vegas.

Kemajuan AI membantu mendorong pasar secara luas mencapai serangkaian rekor pada 2025. Pembaruan dari perusahaan teknologi berpengaruh dapat membantu memberikan lebih banyak kejelasan tentang apakah investasi besar dalam AI sepadan dengan potensi risiko keuangannya.

Investor juga akan fokus pada pasar tenaga kerja AS pekan ini, karena pemerintah merilis tiga laporan terpisah terkait ketenagakerjaan.

Selain itu, Federal Reserve telah mempertimbangkan melemahnya lapangan kerja terhadap risiko kenaikan inflasi saat memutuskan apakah akan memangkas suku bunga. The Fed memangkas suku bunga acuannya tiga kali pada akhir 2025, tetapi inflasi tetap di atas target 2 persen, yang membuat beberapa pejabat bank sentral lebih berhati-hati.

(Dhera Arizona)

SHARE