Wall Street Dibuka Menguat Ditopang Data Inflasi dan Kinerja Bank Besar
Kinerja yang kuat dari bank-bank besar dalam dua hari berturut-turut ikut menjaga sentimen positif pada musim laporan keuangan kuartal kedua.
IDXChannel - Indeks utama Wall Street dibuka naik pada Rabu (15/7/2026), didukung data inflasi produsen yang lebih rendah dari perkiraan dan serangkaian laporan pendapatan perusahaan.
Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 190,64 poin atau 0,36 persen menjadi 52.698,91, S&P 500 (.SPX) naik 23,82 poin atau 0,30 persen menjadi 7.566,51, dan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 113,40 poin atau 0,43 persen menjadi 26.220,41.
Saham PayPal melonjak setelah muncul kabar mengenai tawaran akuisisi senilai USD53 miliar.
Kinerja yang kuat dari bank-bank besar dalam dua hari berturut-turut ikut menjaga sentimen positif pada musim laporan keuangan kuartal kedua. Sektor keuangan dalam indeks S&P 500 naik 0,6 persen.
Saham BlackRock melonjak 7,1 persen setelah manajer aset tersebut membukukan laba yang melampaui ekspektasi analis. Sementara itu, Morgan Stanley juga mencatat laba kuartal kedua yang lebih tinggi dari perkiraan Wall Street, sehingga sahamnya naik 0,6 persen.
“Bank-bank besar terus menunjukkan kuatnya kondisi keuangan konsumen dan perusahaan di Amerika Serikat. Perbankan yang sehat biasanya menjadi sinyal positif bagi perekonomian secara keseluruhan,” ujar Senior Vice President UBS Wealth Management, Charlie Anderson.
Saham PayPal Holdings melonjak hampir 14 persen setelah sumber Reuters menyebutkan bahwa perusahaan pembayaran Stripe bersama perusahaan ekuitas swasta Advent International mengajukan tawaran bersama untuk mengakuisisi PayPal dengan harga USD60,50 per saham, atau sekitar 28 persen lebih tinggi dibandingkan harga penutupan Selasa.
Pada indeks acuan S&P 500, sembilan dari sebelas sektor berada di zona hijau, dengan sektor barang konsumsi non-primer memimpin penguatan.
Musim laporan keuangan kini memasuki fase krusial bagi pasar saham. Indeks S&P 500 telah naik lebih dari 10 persen sepanjang tahun ini dan kini berada tidak jauh dari rekor penutupan tertingginya pada Juni. Kondisi tersebut membuat reli pasar menjadi rentan apabila hasil kinerja perusahaan mengecewakan.
Inflasi Produsen Lebih Rendah dari Perkiraan
Data yang dirilis pada Rabu menunjukkan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) untuk permintaan akhir turun 0,3 persen pada Juni, dibandingkan dengan perkiraan analis yang memperkirakan tidak ada perubahan.
Data tersebut menambah indikasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda sebelum meningkatnya kembali konflik di Timur Tengah. Laporan ini menyusul data inflasi konsumen yang dirilis Selasa, yang juga lebih rendah dari perkiraan dan mengurangi ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera kembali menaikkan suku bunga.
Para pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 12 persen peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen pada pertemuan berikutnya. Angka ini turun tajam dari hampir 41 persen sebelum data inflasi konsumen (CPI) dirilis, berdasarkan alat FedWatch milik CME.
Hari Rabu juga merupakan hari kedua Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan pandangannya di hadapan Kongres. Pada Selasa, Warsh mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa satu kali rilis data saja belum cukup untuk menyatakan bahwa inflasi benar-benar terkendali.
Perhatian investor juga masih tertuju pada ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat memulai gelombang baru serangan terhadap Iran usai kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhannya.
(NIA DEVIYANA)