MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Merah di Tengah Panasnya Inflasi AS 

Desi Angriani 12/05/2026 22:23 WIB

Wall Street dibuka melemah di tengah tingginya data inflasi AS dan berlanjutnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Wall Street Dibuka Merah di Tengah Panasnya Inflasi AS (Foto: dok AP)

IDXChannel - Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Selasa (12/5/2026) waktu setempat di tengah tingginya data inflasi AS dan berlanjutnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Melansir Investing, indeks S&P 500 turun 0,4 persen ke level 7.385,30. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite melemah 0,7 persen menjadi 26.079,62 dan Dow Jones Industrial Average turun 0,2 persen ke posisi 49.606,90.

Pelaku pasar mencermati laporan inflasi konsumen AS yang menunjukkan tekanan harga masih cukup tinggi, terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik Iran.

Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics, inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat pada April naik 0,6 persen secara bulanan dan 3,8 persen secara tahunan. 

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar sebesar 3,7 persen secara tahunan dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.

Sementara itu, inflasi inti atau core CPI yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,4 persen secara bulanan dan 2,8 persen secara tahunan, juga melampaui proyeksi pasar.

Kenaikan inflasi terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.

Indeks harga energi tercatat naik 3,8 persen secara bulanan pada April dan menyumbang lebih dari 40 persen kenaikan inflasi utama bulanan. Secara tahunan, harga energi melonjak 17,9 persen, menjadi kenaikan tertinggi sejak September 2022.

Sementara itu, harga bensin naik 5,4 persen secara bulanan dan melesat 28,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, tertinggi sejak Juli 2022.

Meski pasar saham terkoreksi pada awal perdagangan, Wall Street sebelumnya masih ditopang penguatan saham-saham teknologi, khususnya emiten semikonduktor yang mendapat sentimen positif dari tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Senior Research Strategist Pepperstone, Michael Brown menilai, investor kini mulai mengabaikan setiap perkembangan geopolitik dan lebih fokus pada pertumbuhan laba perusahaan serta euforia AI.

“Pasar ekuitas tampaknya mulai bergerak melewati setiap headline geopolitik. Narasi bullish dari pertumbuhan laba yang kuat dan kembali meningkatnya antusiasme terhadap AI kini menjadi pendorong utama aset berisiko,” ujar Brown dalam risetnya.

Di tengah kondisi tersebut, indeks S&P 500 masih mencatat laju pertumbuhan tahunan tercepat sejak kuartal IV-2021 dan telah menorehkan sejumlah rekor tertinggi baru sepanjang 2026.

(DESI ANGRIANI)

SHARE