News

AS Tegaskan Kesepakatan Dagang Tetap Berlaku meski MA Batalkan Tarif

Wahyu Dwi Anggoro 23/02/2026 12:09 WIB

Washington menekankan bahwa kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa, China, dan mitra lainnya tetap berlaku.

AS Tegaskan Kesepakatan Dagang Tetap Berlaku meski MA Batalkan Tarif. (Foto: White House)

IDXChannel - Washington menekankan bahwa kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa, China, dan mitra lainnya tetap berlaku meskipun Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) telah membatalkan tarif resiprokal.

"Jadi kami sedang melakukan percakapan aktif dengan mereka. Kami ingin mereka memahami bahwa kesepakatan ini tetap kesepakatan yang baik," kata Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer kepada CBS, dilansir dari AFP pada Senin (23/2/2026).

"Kami berharap untuk tetap berpegang pada kesepakatan tersebut. Kami berharap mitra kami juga akan tetap berpegang pada kesepakatan tersebut," katanya.

Namun, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengatakan dalam acara yang sama bahwa ia tidak yakin apa konsekuensi dari keputusan pengadilan AS tersebut.

"Jadi saya berharap hal itu akan diklarifikasi, dan akan dipikirkan secara matang, sehingga kita tidak akan menghadapi tantangan lagi, dan proposal tersebut akan sesuai dengan konstitusi, sesuai dengan hukum," kata Lagarde.

Pada Jumat, Mahkamah Agung AS memutuskan dengan suara 6-3 bahwa presiden telah melampaui wewenangnya dalam memberlakukan tarif berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Darurat Ekonomi Internasional (IEEPA).

Trump marah dengan putusan baru itu dan mengumumkan bea masuk global baru sebesar 10 persen berdasarkan undang-undang yang berbeda. Dia kemudian menaikkannya menjadi 15 persen.

Tarif tersebut mulai berlaku pada Selasa dan akan berjalan selama 150 hari.

Ketika ditanya tentang keputusan Trump untuk menaikkan tarif global baru dari 10 persen menjadi 15 persen, Greer mengatakan bahwa angka terbaru adalah tingkat tertinggi yang diizinkan oleh hukum bagi presiden.

Greer juga ditanya tentang penggunaan tarif yang agresif oleh Trump meskipun jajak pendapat menunjukkan sebagian besar warga Amerika tidak menyetujui kebijakan ini.

"Presiden telah berkampanye tentang tarif dan melindungi industri Amerika selama bertahun-tahun, dan dia melakukan apa yang dia katakan, dia menepati janjinya," kata Greer. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE