BMKG Pastikan RI Tidak Berpotensi Heatwave Seperti di Eropa Meski El Nino Menguat
BMKG memastikan Indonesia tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) seperti yang melanda sejumlah negara di Eropa meski fenomena El Nino menguat.
IDXChannel - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) seperti yang melanda sejumlah negara di Eropa meski fenomena El Nino mulai berkembang di tengah tren pemanasan global.
Namun, BMKG mengingatkan peningkatan suhu yang berlangsung secara bertahap tetap berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan sehingga perlu diantisipasi.
Data BMKG menunjukkan suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5 derajat Celcius atau sekitar 0,5 derajat lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode klimatologi 1991-2020. Kenaikan tersebut dinilai cukup meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika disertai kelembapan udara yang tinggi dan aktivitas fisik di luar ruangan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kombinasi El Nino dan tren pemanasan global akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi. Meski demikian, karakteristik iklim tropis Indonesia membuat peluang terjadinya heatwave seperti di kawasan subtropis relatif kecil.
Menurutnya, wilayah laut yang mengelilingi Indonesia berfungsi sebagai penyangga alami yang membantu menjaga kestabilan suhu udara sehingga lonjakan suhu ekstrem seperti yang terjadi di Eropa maupun Amerika sulit terjadi.
“Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan,” kata Ardhasena dalam Webinar Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Meski peluang heatwave kecil, BMKG mencatat tren pemanasan di Indonesia terus meningkat. Ardhasena menjelaskan suhu rata-rata nasional telah naik sekitar 0,13-0,14 derajat Celcius setiap dekade. Bahkan, Juni 2026 tercatat sebagai bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991-2020.
“Jumlah hari panas maupun malam yang tetap hangat atau yang disebut sebagai tropical nights juga terus mengalami peningkatan, terutama di wilayah pesisir,” katanya.
BMKG, kata Ardhasena, juga memproyeksikan kondisi panas tersebut berpotensi semakin memburuk seiring perkembangan El Nino yang diperkirakan mencapai kategori kuat pada tahun ini.
“El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas kuat. Waspada peningkatan risiko kekeringan dan dampak turunannya, suhu ekstrem, dan heatstroke, serta potensi penurunan kualitas udara akibat kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla dan akumulasi polutan yang berdampak pada kesehatan,” tegasnya.
Ardhasena menegaskan ancaman utama bagi Indonesia bukanlah gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa, melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung secara terus-menerus dan diperparah oleh kelembapan udara tinggi sehingga meningkatkan beban panas yang dirasakan tubuh.
“Peluang terjadinya gelombang panas seperti di Eropa memang kecil. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi kondisi panas tinggi yang berlangsung secara berkelanjutan, diiringi kelembaban yang tinggi, dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh manusia,” paparnya.
(Febrina Ratna Iskana)