Daging Sapi Amerika Punya Cita Rasa yang Berbeda, Ternyata Ini Rahasianya
Daging sapi yang diternakkan di Amerika Serikat memiliki cita rasa berbeda karena sumber pakannya yang berbeda.
IDXChannel—Daging sapi asal Amerika Serikat dikenal memiliki cita rasa yang khas dibandingkan dengan daging sapi dari negara lain. Ternyata, rahasia di balik kualitas tersebut terletak pada pola pemberian pakan yang menggunakan jagung (corn-fed).
Regional Director ASEAN U.S. Meat Export Federation (USMEF), Sabrina Yin, menjelaskan bahwa sapi di AS diberi pakan jagung selama masa penggemukan. Proses ini membuat daging menghasilkan marbling atau serat lemak yang menjadi ciri khas daging sapi premium.
“Di Amerika Serikat, sapi kami diberi makan jagung. Ketika hewan mengonsumsi jagung, akan terbentuk marbling. Itulah yang membuat daging sapi AS berbeda dengan daging sapi Australia, Selandia Baru, maupun Brasil,” ujar Sabrina saat ditemui di Food and Hospitality Indonesia 2026 pada Selasa (21/7/2026).
Menurut Sabrina, marbling berperan penting dalam menciptakan pengalaman menyantap daging yang lebih nikmat. Saat dimasak, lemak pada marbling akan meleleh sehingga menghasilkan tekstur yang lebih juicy.
“Semakin banyak marbling, maka daging akan semakin juicy. Selain itu juga memberikan rasa yang lebih kaya dan teksturnya lebih empuk,” jelasnya.
Ia menambahkan, jagung yang dikonsumsi sapi berbeda dengan jagung manis yang biasa dimakan manusia. Jagung pakan tersebut dipilih karena mampu menghasilkan kualitas daging yang lebih baik.
Meski dikenal sebagai daging premium, Sabrina mengatakan produk daging sapi AS tidak hanya dipasarkan untuk restoran steak kelas atas. Berbagai potongan sekunder juga dimanfaatkan untuk menu yang lebih terjangkau.
Salah satu contohnya adalah irisan tipis daging sapi yang digunakan dalam menu beef bowl di salah satu restoran makanan cepat saji.
“Di Yoshinoya rice bowl, mereka menggunakan 100 persen daging sapi AS. Jadi kami memiliki berbagai tingkatan pasar, mulai dari steak premium hingga produk yang harganya lebih terjangkau,” tuturnya.
Namun, Sabrina mengakui pangsa pasar daging sapi AS di Indonesia masih tergolong kecil karena harganya lebih tinggi dibandingkan dengan produk impor lainnya.
“Kami memang belum terlalu besar di Indonesia karena biaya produksi sapi yang diberi makan jagung lebih tinggi. Tetapi kualitasnya juga berbeda,” pungkasnya.
(Nadya Kurnia)