Muhammadiyah Mulai Bangun Pabrik Infus Senilai Rp800 Miliar di Malang
Muhammadiyah menjadi satu-satunya organisasi masyarakat (ormas) keagamaan yang memiliki pabrik infus di Indonesia.
IDXChannel - Muhammadiyah resmi memulai pembangunan pabrik infus senilai Rp800 miliar di Kabupaten Malang.
Dimulainya proses pembangunan pabrik infus di wilayah Karangploso, Kabupaten Malang, menjadi penanda Muhammadiyah satu-satunya organisasi masyarakat (ormas) keagamaan yang memiliki pabrik infus di Indonesia.
Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, pembangunan pabrik infus ini menjadi tonggak awal membentangkan peran Muhamadiyah terhadap pembangunan Indonesia.
Selama ini ada stigma negatif dibalik ormas keagamaan terjun ke pengelolaan industri, seperti pembuatan pabrik infus ini. Padahal pengelolaan sektor industri, termasuk pembangunan pabrik infus menjadi bagian dari pengamalan sosial keagamaan, yang mengatur hubungan antar manusia, maupun dengan lingkungan.
"Kita ingin memberi pemahaman bahwa itu pandangan yang sempit tentang gerakan keagamaan, bahkan juga pandangan yang sempit tentang agama itu sendiri," kata Haedar Nashir, saat Groundbreaking Pabrik Infus di Karangploso, Malang, Kamis (11/6/2026).
"Karena agama itu dalam pemahaman remaja bukan hanya aspek akidah dan ibadah, tapi juga akhlak dan muamalah, duniawiyah muamalah, itu segala urusan yang berinteraksi dengan hubungan sesama manusia dan dimensi lingkungannya," lanjutnya.
Selama ini kata Haedar, Muhammadiyah memiliki sebanyak 130 rumah sakit dan 231 klinik yang bisa menjadi pasar infus produksi PT Suryavena Farma Indonesia, perusahaan pabrik infus yang dimiliki Muhammadiyah.
Di mana menurutnya, kebutuhan infus itu merupakan hal dasar di dunia medis di samping kebutuhan obat-obatan lain di sektor medis.
"Kita punya 130 rumah sakit dan ratusan klinik, kalau tidak kita layani dengan kekuatan sendiri, biasanya kan menggunakan jasa orang lain," kata dia.
"Kita akan memulai sesuatu yang paling bisa kita lakukan ekosistem bisnis rumah sakit. Kita akan bergerak di bidang obat, banyak hal yang biasanya kalau sudah kita mulai sesuatu yang lain akan mengikuti," lanjutnya.
Harapannya dari pembangunan pabrik infus dan masuknya Muhammadiyah ke beberapa sektor bisnis lain, termasuk tambang dan pengelolaan sawit, demi memberikan kemandirian dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Sehingga ketika dibutuhkan misalnya dalam pembangunan tempat ibadah atau lembaga pendidikan, tak perlu lagi meminta sumbangan atau donasi ke beberapa pihak termasuk ke pemerintah.
Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menyebut, nilai investasi pabrik infus ini sebesar Rp800 miliar.
Pabrik itu diklaim mampu memproduksi hingga 15 juta botol infus per tahunnya, dan menempati luas area tanah hingga 14 hektar di wilayah Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, dimana tiga hektar di antaranya dialokasikan untuk kawasan industri terpadu.
"Saya harap tahun depan pertengahan 2027 pabrik ini bisa berproduksi. Nilai investasi pabrik Rp800 miliar di luar tanah, UMM (Universitas Muhamadiyah Malang) salah satu pemegang saham. Jadi ini lahannya memang milik Universitas Muhammadiyah Malang, sementara untuk pabrik sendiri itu melibatkan rumah sakit-rumah sakit besar di lingkungan Muhammadiyah," kata Muhadjir Effendy.
Muhadjir optimis pembangunan pabrik infus ini mampu memenuhi kebutuhan infus di sekitar 130 rumah sakit dan 231 klinik Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Sebab selama dua tahun ini Muhammadiyah bekerjasama dengan produsen obat BUMN, dalam suplai infus di fasilitas medis milik Muhammadiyah.
"Bahkan jika memungkinkan, infus - infus itu bisa menyuplai kebutuhan rumah sakit dan klinik lain di Indonesia," kata dia.
(Nur Ichsan Yuniarto)