News

Spirit Airlines Bangkrut, Maskapai Pertama yang Kolaps Imbas Perang dengan Iran

Kurnia Nadya 04/05/2026 15:04 WIB

Spirit Airlines berhenti beroperasi sejak 2 Mei 2026 karena kenaikan harga avtur yang signifikan.

Spirit Airlines Bangkrut, Maskapai Pertama yang Kolaps Imbas Perang dengan Iran. (Foto: Wikimedia)

IDXChannel—Spirit Airlines, maskapai murah yang berbasis di Amerika Serikat, menghentikan operasinya pada Sabtu (2/5/2026). Spirit adalah maskapai pertama yang akhirnya bangkrut karena kenaikan harga avtur yang signifikan imbas perang Iran-AS. 

Melansir CNA (4/5/2026), Spirit gagal mendapatkan dukungan dari pemodal untuk rencana bailout dari pemerintah Amerika Serikat. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengusulkan dana talangan sebesar USD500 juta (Rp8,67 triliun) untuk menyelamatkan Spirit Airlines

Namun, usulan tersebut ditolak oleh banyak anggota Partai Republik di Kongres AS. Spirit Airlines termasuk salah satu maskapai dengan pangsa pasar yang besar, yakni sekitar 5 persen dari total pasar penerbangan di AS. 

Dalam dua dekade terakhir, tidak ada maskapai penerbangan dengan pangsa pasar sebesar Spirit Airlines yang mengalami kebangkrutan hingga berhenti beroperasi. Hal ini menunjukkan bagaimana kenaikan harga avtur imbas perang dapat mengganggu industri penerbangan secara signifikan. 

Menyusul kebangkrutan perusahaan, Spirit membatalkan seluruh penerbangan dan meminta calon penumpang untuk tidak pergi ke bandara. Spirit tercatat masih memiliki 4.119 penerbangan domestik pada 1–15 Mei 2026. 

Pada Jumat (1/5/2026), Trump menawarkan proposal terakhir untuk menyelamatkan Spirit Airlines kepada manajemen dan pemodalnya. Sebelumnya, sempat ada negosiasi lain yang menawarkan pembiayaan USD500 juta untuk membantu Spirit, tetapi berakhir buntu. 

Rencana restrukturisasi Spirit sebelumnya menggunakan asumsi harga avtur sekitar USD2,24 per galon pada 2026 dan USD2,14 per galon pada 2027. Namun, harga melonjak menjadi sekitar USD 4,51 per galon pada akhir April, sehingga maskapai tidak mampu bertahan tanpa pendanaan baru.

Reuters melaporkan bahwa Menteri Perhubungan Sean Duffy mengatakan bahwa dia telah berupaya membujuk sejumlah maskapai lain untuk membeli Spirit Airlines, tetapi tidak ada yang berminat.

“Kalau tidak ada yang mau membeli, kenapa kita harus membelinya?” kata Duffy. 

Spirit Airlines bukanlah satu-satunya maskapai penerbangan yang harus menghadapi kenaikan harga avtur sejak peperangan mengakibatkan penutupan Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur pengolahan minyak di Semenanjung Arab. 

Maskapai asal Jerman, Lufthansa, telah menghentikan ribuan penerbangan jarak pendek untuk menghemat persediaan avtur. Sementara Swedia memperingkatkan kelangkaan avtur di kawasan Skandinavia. 


(Nadya Kurnia)

SHARE