News

Tercatat 8.224 Kasus Suspek Campak Sepanjang Tujuh Pekan Pertama 2026

Annastasya Rizqa 27/02/2026 17:28 WIB

Kemenkes mencatat ada 572 kasus campak terkonfirmasi sejak awal 2026 hingga saat ini.

Tercatat 8.224 Kasus Suspek Campak Sepanjang Tujuh Pekan Pertama 2026. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Sampai dengan minggu ketujuh 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 8.224 kasus suspek campak. Dari ribuan kasus suspek itu, tercatat ada 572 kasus terkonfirmasi dan empat kasus kematian (CFR 0,05 persen). 

Pada periode ini, Kementerian Kesehatan juga mencatat terdapat 21 KLB (Kejadian Luar Biasa) suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kota/kabupaten pada 11 provinsi. 

Sepanjang tahun lalu, Kemenkes melaporkan kasus suspek campak di Indonesia mencapai 63.769 kasus, dengan 11.094 di antaranya terkonfirmasi laboratorium dan 69 kasus kematian (CFR 0,1 persen). 

Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat menular sehingga memerlukan kewaspadaan dan respons cepat.

“Campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Karena itu, setiap peningkatan kasus harus direspons dengan cepat melalui surveilans yang kuat dan pelaporan yang tepat waktu,” ujar dr. Andi dalam konferesi pers, Kamis (27/2/2026).

Dia menjelaskan bahwa penemuan kasus suspek campak pada 2025 meningkat secara signifikan, yakni 147 persen dibandingkan dengan 2024, sehingga penguatan sistem kewaspadaan dini menjadi prioritas utama.

“Kami terus memperkuat surveilans campak secara nasional, termasuk penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah penemuan kasus dan pelaporan real time melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR),” jelasnya.

Peningkatan kasus campak juga dilaporkan di berbagai kawasan dunia, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat, yang turut meningkatkan risiko penularan lintas negara. 

Indonesia juga menerima notifikasi International Health Regulations (IHR) terkait kasus campak pada WNA Australia yang sempat melakukan perjalanan dan tinggal sementara di Indonesia. 

Seluruh kasus tersebut telah dinyatakan sembuh dan koordinasi lintas negara terus dilakukan.

Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti, menegaskan bahwa dinamika kasus campak sangat berkaitan dengan ketimpangan cakupan imunisasi di tingkat daerah.

“Secara nasional, capaian imunisasi campak-rubella sudah melampaui target, tetapi kasus masih terjadi di provinsi, kabupaten, bahkan desa tertentu yang memiliki cakupan imunisasi rendah. Di wilayah-wilayah inilah risiko KLB campak menjadi lebih tinggi,” ujar dr. Mulya.

Kementerian Kesehatan menegaskan akan terus meningkatkan kewaspadaan nasional melalui penguatan surveilans, respons cepat terhadap KLB, serta kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah daerah guna mencegah meluasnya penularan campak di Indonesia.

(Nadya Kurnia)

SHARE