SYARIAH

Awal Ramadan 2026 Berpotensi Berbeda, Begini Tanggapan MUI

Jonathan Simanjuntak 16/02/2026 09:50 WIB

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) M Cholil Nafis mengatakan, awal Ramadan 1447 H/2026 berpotensi berbeda antarumat muslim di Indonesia.

Awal Ramadan 2026 Berpotensi Berbeda, Begini Tanggapan MUI. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) M Cholil Nafis mengatakan, awal Ramadan 1447 H/2026 berpotensi berbeda antarumat muslim di Indonesia. Namun, Cholil meminta agar perbedaaan itu tak perlu dibawa kepada perpecahan.

"Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikr atau masalah perbedaan pemikiran. Dan tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan, tapi jadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak," kata Cholil dalam keterangan resmi, Senin (16/2/2026).

Dia menerangkan, beberapa umat muslim telah menetapkan awal Ramadan pada 18 Februari 2026. Sementara beberapa umat muslim menilai hilal belum bisa mencapai kriteria pada 18 Februari 2026.

Cholil menuturkan, kemungkinan posisi derajat hilal masih berada di bawah 3 derajat. Sementara ketentuan Mabims, yakni ulama-ulama yang tergabung dalam forum ulama Asia Tenggara yakni Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darusalam menyepakati hilal bisa dilihat kalau sudah berada di atas 3 derajat.

"Ada yang tanggal 18 dan ada yang tanggal 19 Februari. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk," katanya.

Sehingga, dia menegaskan, agar antarumat jangan sampai ada gesekan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Muslim. Menurutnya, ukhuwah Islamiyah merupakan hal penting menuju kedekatan umat Islam kepada Allah SWT.

(Dhera Arizona)

SHARE