“Pengalaman negara lain dapat menjadi pembelajaran dalam membangun ekosistem UMKM yang mampu tumbuh dan berkembang berdampingan dengan pelaku usaha berskala besar,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Airlangga mengatakan bahwa ekonomi global diproyeksikan membaik pada 2027, namun berbagai risiko geopolitik, energi, perdagangan, inflasi, dan volatilitas pasar keuangan masih membayangi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, dia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pada semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen (c-to-c), dengan inflasi Juli 2026 terkendali sebesar 2,28 persen, Indeks Keyakinan Konsumen berada di level optimis 116,8, PMI Manufaktur kembali ekspansif pada level 50,2, serta cadangan devisa mencapai USD145,3 miliar.
Di sisi lain, berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat dari 92,74 persen pada 2025 menjadi 93,61 persen pada 2026. Sementara itu, indeks literasi keuangan nasional juga meningkat menjadi 69,57 persen.
“Saya mengapresiasi terkait dengan inklusi, angkanya, literasi sudah naik, inklusi naik, tinggal kesejahteraannya bisa dikejar. Sekarang kan financial welfare yang dikejar. Jadi mereka sudah literate, sudah inklusif, punya rekening. Tapi kemampuan mereka untuk membaca, melakukan investasi dan lain-lain. Nah itu yang dikejar untuk berikutnya,” ujarnya.
(NIA DEVIYANA)