"Belum sih, belum (realokasi) ke saham. Karena banyak yang alokasi sahamnya masuk di 2026 itu terlalu tinggi, terlalu euforia, banyak yang masih floating loss," ungkap Stefanus.
Atas dasar pertimbangan risiko tersebut, arus dana baru dari investor kini cenderung dialokasikan ke strategi investasi yang lebih defensif dan konservatif, dengan reksa dana pasar uang sebagai salah satu instrumen penempatan utama. (Febrina Ratna Iskana)