sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BTN Jajaki Tokenisasi Aset KPR, Bidik Sumber Pendanaan Lebih Luas

Banking editor Anggie Ariesta
27/09/2026 11:00 WIB
BBTN menjajaki pemanfaatan teknologi tokenisasi aset digital untuk memperluas akses pendanaan (funding) sektor perumahan
BTN Jajaki Tokenisasi Aset KPR, Bidik Sumber Pendanaan Lebih Luas. (Foto: Ilustrasi)
BTN Jajaki Tokenisasi Aset KPR, Bidik Sumber Pendanaan Lebih Luas. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menjajaki pemanfaatan teknologi tokenisasi aset digital untuk memperluas akses pendanaan (funding) sektor perumahan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembiayaan perumahan BTN setelah perseroan sebelumnya menjalankan sekuritisasi aset Kredit Pemilikan Rumah (KPR) melalui Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) dan Efek Beragun Aset-Surat Partisipasi (EBA-SP) bersama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF.

Direktur Network and Retail Funding BTN Rully Setiawan mengatakan, pengalaman perseroan dalam sekuritisasi aset menunjukkan pentingnya efisiensi pendanaan dalam mengelola maturity mismatch sekaligus membuka ruang untuk penyaluran KPR baru.

Menurut dia, perkembangan teknologi menuju tokenisasi aset tidak mengubah prinsip dasar yang perlu dijaga, seperti pengawasan, kualitas underlying asset, transparansi, dan perlindungan investor.

“Kami melihat tokenisasi berpotensi membuka akses terhadap sumber pendanaan yang lebih luas melalui representasi aset secara digital,” kata Rully dalam sesi Casual Talk pada ajang FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (26/9/2026).

Rully mengatakan, penerapan teknologi tersebut tidak hanya sebatas merepresentasikan aset dalam bentuk digital, tetapi perlu memberikan dampak terhadap pembiayaan sektor perumahan.

“Ke depan, use case-nya juga dapat berkembang, misalnya untuk membantu monetisasi aset tertentu, termasuk aset bermasalah, sepanjang struktur legal, valuasi, perlindungan investor, dan aspek regulasinya telah memadai,” ujarnya.

Untuk mendukung penerapan tokenisasi, BTN memetakan empat aspek kesiapan, yakni infrastruktur ekosistem digital yang aman, kepastian struktur transaksi secara legal, kualitas dan standardisasi data underlying KPR, serta edukasi bagi basis investor.

Perseroan juga menyiapkan mitigasi terhadap sejumlah risiko, mulai dari risiko siber dan operasional, risiko underlying KPR, risiko likuiditas pasar sekunder, hingga perlindungan konsumen.

“Karena itu, bagi BTN, keberhasilan tokenisasi bukan diukur dari berapa banyak aset yang berhasil ditokenisasi, melainkan dari seberapa jauh inovasi tersebut mampu memperluas akses investor, menciptakan pendanaan yang lebih efisien, dan pada akhirnya meningkatkan kapasitas pembiayaan perumahan,” jelas Rully.

Di sisi lain, BTN mengembangkan strategi Beyond Mortgage untuk memperluas keterlibatan dengan nasabah di luar transaksi KPR. Pendekatan tersebut dilakukan melalui keterlibatan perseroan dalam berbagai kegiatan gaya hidup dan kebudayaan, seperti Jakarta International Marathon, Indonesia Fashion Week, Wonderful Indonesia Gastronomy, hingga konser Guns N' Roses.

“Artinya, hubungan BTN dengan nasabah tidak lagi hanya terjadi ketika mereka membeli atau mencicil rumah, tetapi juga dalam berbagai aktivitas dan kebutuhan sehari-hari,” ungkap Rully.

Keterhubungan tersebut kemudian diintegrasikan melalui ekosistem digital BTN melalui aplikasi balé by BTN. Platform tersebut mencakup berbagai kebutuhan transaksi nasabah, mulai dari tabungan, payroll, pembayaran merchant hingga investasi.

“Karena itu, digitalisasi bagi kami bukan sekadar memindahkan layanan ke aplikasi. Lebih dari itu, digitalisasi adalah bagaimana BTN dapat hadir lebih dekat, lebih relevan, dan memberikan nilai dalam keseharian masyarakat,” pungkas Rully.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement