IDXChannel - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) menegaskan posisinya tidak hanya sebagai lembaga keuangan komersial, melainkan juga sahabat spiritual dan sosial bagi masyarakat.
Sinergi antara BSI dan BSI Maslahat dalam mengelola dana zakat, infak, dan sedekah terbukti mampu mendorong mobilitas sosial serta kemandirian ekonomi penerima manfaat.
Direktur Compliance & Human Capital BSI, Arief Adhi Sanjaya menjelaskan bahwa akumulasi penghimpunan dana sosial BSI melalui BSI Maslahat telah menembus Rp602 miliar hingga 16 Oktober 2026. Dari total dana amanah tersebut, sebanyak Rp461,5 miliar telah disalurkan menjadi program kemanfaatan sosial.
"Saya ingin menyampaikan pada kesempatan ini bahwa BSI Bank Syariah Indonesia itu tidak semata-mata bank yang berbicara mengenai masalah finansial. Kami di BSI berbicara mengenai sisi spiritual dan juga sisi sosial. Kami menjadi sahabat finansial, sahabat sosial dan juga sahabat dalam spiritual," ujar Arief pada ajang BSI International Expo 2026 di Jakarta, dikutip Minggu (25/10/2026).
Arief menjelaskan bahwa BSI tidak sekadar berfokus pada capaian angka, melainkan sejauh mana penyaluran dana sosial tersebut mampu mengubah kehidupan dan mewujudkan mimpi masyarakat, salah satunya melalui program BSI Scholarship.
Sejak tahun 2021, program BSI Scholarship yang dijalankan bersama BSI Maslahat telah membuka kesempatan pendidikan bagi 21.153 anak bangsa yang tersebar di 190 perguruan tinggi. Rincian penerima manfaat tersebut terdiri dari 8.304 pelajar dan 12.849 mahasiswa.
Hingga saat ini, sebanyak 1.182 alumni BSI Scholarship telah menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana.
Dari total lulusan tersebut, sebanyak 672 alumni telah bekerja sebagai profesional, 80 orang melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana, dan 37 alumni berhasil mendirikan perusahaan sendiri.
Dampak dari program beasiswa ini juga tercatat mentransformasi status ekonomi keluarga penerima manfaat. Sebanyak 548 alumni BSI Scholarship telah berhasil keluar dari kriteria penerima bantuan, dan 70 orang di antaranya bahkan telah tumbuh menjadi pembayar zakat (muzakki).
"70 orang dari mereka itu sekarang sudah menjadi muzakki, coba kita bayangkan, mereka yang dulu memperoleh zakat, sekarang sudah mampu membayar zakat," kata dia.
"Tangan yang dulu menerima, sekarang sudah menjadi tangan yang mampu untuk memberi dan itulah menurut kami BSI, esensi dari indahnya zakat itu bekerja. Zakat tidak berhenti pada satu tangan semata, tetapi menjadi bantuan, menjadi empowerment, menjadi kemandirian," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)