"Menjelang awal 2026, kondisi makroekonomi Indonesia dihadapkan pada kombinasi tekanan inflasi dari sisi pasokan dan meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong penguatan dolar AS," katanya.
Inflasi umum pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dari 2,72 persen pada bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak April 2024.
Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem dan banjir di sejumlah wilayah Sumatera serta meningkatnya permintaan selama periode libur Natal dan Tahun Baru. Komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan beras menjadi penyumbang utama kenaikan harga.
Selain pangan, tekanan inflasi juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang dipengaruhi oleh lonjakan harga emas dunia. Sepanjang 2025, perhiasan emas tercatat sebagai salah satu kontributor terbesar inflasi, seiring meningkatnya permintaan global terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global.