Dari sisi eksternal, meskipun aliran modal asing kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia sejak pertengahan Desember 2025, rupiah tetap melemah. Penguatan dolar AS dipicu oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga lebih lama, ditambah meningkatnya permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik global.
"Kondisi ini membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih berlanjut," ujar riset tersebut.
Aliran dana asing tercatat masuk terutama ke instrumen jangka pendek, termasuk surat berharga BI dan obligasi pemerintah tenor pendek. Sementara itu, minat terhadap obligasi jangka panjang relatif terbatas, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko fiskal domestik, mengingat defisit anggaran 2025 mendekati batas atas yang diizinkan undang-undang.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada November 2025, meskipun nilainya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya ekspor, baik migas maupun nonmigas, terutama akibat turunnya harga minyak global dan melemahnya permintaan dari negara mitra dagang utama seperti China.
Sementara itu, impor justru meningkat secara tahunan, sejalan dengan menguatnya aktivitas manufaktur dalam negeri.
Dengan inflasi yang masih berada dalam rentang target namun cenderung meningkat, serta tekanan nilai tukar yang dipengaruhi faktor global, pelonggaran kebijakan moneter dinilai berisiko. Penurunan suku bunga berpotensi mempersempit selisih suku bunga dengan AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.
(Dhera Arizona)