Dato’ Sri Khairussaleh menilai Indonesia memegang peranan yang sangat vital dan strategis sebagai motor ekonomi terbesar di Asia Tenggara sekaligus jangkar utama rantai pasok regional. Keberhasilan bumi pertiwi dalam mengeksekusi transisi energi bersih diyakini akan memberikan efek kejut positif bagi pertumbuhan ekonomi ASEAN secara menyeluruh.
Komitmen Indonesia dinilai sangat kuat melalui target pencapaian emisi nol bersih (net zero emissions) pada 2060 atau bahkan lebih awal. Keseriusan tersebut mendapat dukungan penuh dari bauran kebijakan pemerintah, pembaruan taksonomi hijau oleh regulator, serta penyusunan kerangka pembiayaan berkelanjutan yang memberikan kepastian hukum bagi para pelaku usaha maupun investor dalam menanamkan modal jangka panjang.
Saat ini, isu perubahan iklim ditegaskan bukan lagi sekadar wacana kelestarian lingkungan, melainkan telah bergeser menjadi tantangan bisnis riil yang memengaruhi produktivitas kerja, ketahanan infrastruktur logistik, hingga stabilitas makroekonomi.
Oleh karena itu, dunia usaha dituntut adaptif dalam menyusun skema transisi yang kredibel. Pemodal global kini cenderung menghindari korporasi yang lambat bertransisi demi meminimalisir risiko aset terlantar (stranded assets).
“Perusahaan yang lebih cepat beradaptasi akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menangkap peluang pertumbuhan baru dan menarik investasi,” imbuhnya.