sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pertumbuhan Kredit BBRI Tembus 12,3 Persen Sepanjang 2025

Banking editor Rahmat Fiansyah
26/02/2026 09:23 WIB
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjalankan fungsi intermedia secara ekspansif sepanjang tahun lalu.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjalankan fungsi intermedia secara ekspansif sepanjang tahun lalu. (Foto: Ist)
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjalankan fungsi intermedia secara ekspansif sepanjang tahun lalu. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjalankan fungsi intermedia secara ekspansif sepanjang tahun lalu. Hal ini terlihat dari penyaluran kredit yang tumbuh double digit, di atas industri perbankan yang hanya single digit.

BRI mencatat penyaluran kredit sebesar Rp1.521,5 triliun pada 2025, tumbuh 12,3 persen sebagai imbas dari penyaluran kredit untuk program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Sementara Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan BRI mencapai Rp176 triliun untuk 3,8 juta debitur.

Namun, bank dengan kode emiten BBRI tersebut mencatat penurunan pada kualitas aset. Hal ini tercermin dari Rasio Kredit Bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang secara gross naik dari 2,94 persen pada akhir 2024 menjadi 3,29 persen pada akhir 2025.

Dalam laporan keuangan yang diterbitkan Kamis (26/2/2026), dari sisi topline, BRI mencatat pendapatan bunga bersih sebesar Rp151,8 triliun sepanjang tahun lalu, tumbuh 5 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp143,8 triliun.

Namun, margin pendapatan bunga (Net Interest Margin/NIM) BRI tercatat turun dari 6,75 persen pada 2024 menjadi 6,54 persen pada 2025. Selain itu, BRI juga mencatat lonjakan pendapatan nonbunga hingga 59 persen menjadi Rp116,6 triliun.

BRI juga mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.466,8 triliun, tumbuh 7,4 persen dibandingkan 2024 yan,g sebesar Rp1.365,4 triliun. Pertumbuhan DPK ditopang oleh giro yang melesat 19,6 persen menjadi Rp448,2 triliun. 

Tabungan tumbuh 8 persen menjadi Rp588 triliun, sedangkan deposito turun 3,5 persen menjadi Rp431 triliun. Porsi Current Account Saving Account (CASA) mencapai 70,61 persen dari total DPK.

Secara operasional, beban juga meningkat 49 persen menjadi Rp147,7 triliun, terutama akibat beban tenaga kerja yang naik 22 persen menajdi Rp46,1 triliun. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang naik dari 67,64 persen menjadi 71,50 persen. 

Senada, Cost to Income Ratio (CIR) juga sedikit naik dari 37,87 persen menjadi 38,92 persen. Sementara beban pajak tercatat turun 8 pesen menjadi Rp15,7 triliun, sehingga mengurangi tekanan pada kinerja bottomline.

BRI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,1 triliun. Capaian tersebut lebih rendah 5,3 persen dibandingkan laba bersih yang diperoleh pada 2024 sebesar Rp60,3 triliun, terutama akibat meningkatnya angka kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) menjadi Rp46,1 triliun.

Dari sisi likuiditas, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI hingga akhir 2025 berada di level 21,06 persen, turun dibandingkan 2024 yang sebesar 24,41 persen. Sejalan dengan hal tersebut, Loan to Deposit Ratio (LDR) BRI juga tampak mengetat dari 89,39 persen pada akhir 2024 menjadi 91,96 persen pada akhir 2025. Tekanan likuiditas tersebut imbas dari langkah agresif BRI dalam menyalurkan kredit.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement