Sekadar informasi, industri tapioka memiliki peluang pengembangan proyek karbon karena air limbah dengan kandungan bahan organik tinggi dapat menghasilkan gas metana (CH4) dalam proses pengolahan anaerobik.
Melalui penerapan teknologi methane capture, destruction, dan utilization, emisi metana dapat dikurangi dan bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Dalam kerja sama tersebut, ESGIN akan mengintegrasikan pengembangan teknologi Digital Monitoring, Reporting and Verification (Digital MRV), carbon accounting, pengembangan proyek karbon, serta akses terhadap pembiayaan hijau dan pasar karbon.
Adapun terkait angka potensi pengurangan emisi karbon, hal itu merupakan estimasi awal. Volume pengurangan emisi terverifikasi dan kredit karbon yang dapat diterbitkan akan ditentukan setelah proyek melalui studi kelayakan, penetapan baseline, pemilihan metodologi, monitoring, validasi, verifikasi, registrasi, serta pemenuhan regulasi yang berlaku.
Pada kesempatan terpisah, ESGIN juga menandatangani MoA (Memorandum of Agreement) dengan PT Juang Jaya Abdi Alam, perusahaan peternakan sapi berskala besar di Lampung. Kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan dan pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biochar dengan mengombinasikannya dengan biomassa jerami padi.
Dengan basis populasi sekitar 20.000 ekor sapi, kolaborasi tersebut menargetkan pengembangan kapasitas produksi biochar hingga sekitar 30.000 ton per tahun. Kapasitas dan realisasi akhir akan ditentukan berdasarkan hasil studi kelayakan, ketersediaan dan karakteristik bahan baku, konfigurasi teknologi, serta pengujian kualitas produk.
Biochar yang dihasilkan diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai pembenah tanah (soil amendment) guna mendukung peningkatan kualitas tanah dan praktik pertanian berkelanjutan. Proyek tersebut juga akan dikaji potensinya sebagai carbon removal project, dengan memperhatikan metodologi carbon accounting, ketahanan penyimpanan karbon, Digital MRV, validasi, verifikasi, serta standar dan regulasi karbon yang berlaku.
(Dhera Arizona)