Dengan demikian, pengembangan bioetanol tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga memperkuat keterkaitan antara sektor pertanian dan industri.
Bahlil menegaskan, pengembangan bioetanol merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas pemanfaatan energi alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dalam hal ini, pemerintah telah mendorong pemanfaatan biodiesel berbasis minyak sawit melalui program B50.
Ke depan, pengembangan etanol juga akan menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.
Menurut Bahlil, peningkatan produksi energi dari sumber daya domestik diperlukan karena peningkatan produksi minyak nasional memiliki keterbatasan. Karena itu, pemerintah perlu mengoptimalkan sumber energi alternatif yang dapat dikembangkan dari potensi dalam negeri.
Pengembangan bioetanol berbasis jagung, singkong, dan tebu diharapkan dapat mengurangi kebutuhan impor BBM sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.
Di tingkat daerah, strategi tersebut membuka peluang pengembangan kawasan industri berbasis pertanian, pemanfaatan lahan yang belum produktif, serta penciptaan lapangan kerja baru.
Meski demikian, realisasi pengembangan bioetanol akan bergantung pada kesiapan lahan, ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan, kapasitas industri pengolahan, dan pelaksanaan kebijakan mandatori yang disiapkan pemerintah.
(Dhera Arizona)