Peningkatan tersebut seiring target pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor minyak mentah.
"Harga minyak dunia yang tinggi seperti sekarang, etanol itu energi alternatif yang harganya jauh lebih bisa terjangkau," kata Bahlil.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi itu juga mengatakan, target pemerintah akan sampai pada campuran etanol 50 persen untuk BBM. Dengan demikian, impor minyak mentah nantinya punya porsi yang jauh lebih kecil dari saat ini.
"Kita mau dorong etanol, kita mau dorong sampai E50. Ini bahan bakunya dari tebu, singkong, jagung, dan ini bisa membangun kawasan pertumbuhan ekonomi baru," ujarnya.
Meski demikian, Bahlil menegaskan, pemerintah tidak terburu-buru untuk mencapai target tersebut karena perlu mengimbangi kapasitas produksi etanol di dalam negeri. Hal tersebut untuk menghindari adanya impor etanol alih-alih mengurangi impor BBM yang sudah ada selama ini.
"Ke depan itu dalam perencanaan kita, kita akan bikin sampai dengan E50. Tetapi bertahap. Nah, untuk sampai dengan 2028, kita melihat kapasitas industri kita sekarang sudah seperti apa. Karena jangan sampai kita melakukan mandatori, tapi etanolnya lagi kita impor," kata Bahlil.
(Dhera Arizona)