IDXChannel - Pemerintah memacu penguatan investasi, industrialisasi, serta kemitraan industri sebagai pilar strategis dalam mempercepat transformasi ekonomi dan membuka sumber-sumber pertumbuhan baru. Dalam upaya mendorong sektor penanaman modal dan industri manufaktur tersebut, penguatan kerja sama internasional dengan negara-negara kawasan Asia, khususnya China, menjadi salah satu instrumen utama yang dijalankan.
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Ali Murtopo Simbolon, menegaskan peran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali sebagai ruang strategis bagi perluasan kolaborasi Indonesia dan China di sektor teknologi mutakhir serta perindustrian.
Kawasan ini diharapkan dapat menopang pengembangan kecerdasan buatan, riset dan pengembangan digital, semikonduktor, hingga teknologi kuantum, sembari menyatukan ekosistem akademik dengan kalangan industri.
“Dalam situasi persaingan dan ketidakpastian global, Indonesia menawarkan ruang yang aman bagi pengembangan akademik dan kolaborasi industri. Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) dapat menjadi jembatan antara China, kawasan Asia Tenggara, dan dunia,” ujar Ali dalam keterangan resmi, Senin (5/10/2026).
Peluang ekspansi kerja sama ini sejalan dengan tren peningkatan penetrasi modal dari pelaku usaha China di berbagai KEK nasional. Hingga saat ini, Indonesia tercatat mengelola 25 KEK dengan total mencapai 23.797,88 hektare, yang berhasil membukukan investasi kumulatif sekitar USD20,7 miliar, melibatkan 481 entitas bisnis, serta menyerap lebih dari 283 ribu tenaga kerja.
Pada Triwulan II-2026, keterlibatan entitas asal Negeri Tirai Bambu telah menyentuh 97 dari total 481 tenant KEK atau menguasai porsi sekitar 20 persen.
Ali menggarisbawahi bahwa arah kerja sama bilateral ke depan tidak boleh sekadar berorientasi pada pertambahan nilai investasi nominal semata. Prioritas kolaborasi harus bertumpu pada transfer teknologi, penguatan riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan perluasan kapasitas industri dalam negeri agar mampu menghadirkan nilai tambah nyata bagi struktur ekonomi nasional.
Komitmen tersebut diwujudkan secara konkret melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP). Platform strategis ini mengintegrasikan keunggulan ketersediaan sumber daya alam, potensi pasar domestik, dan posisi geografis Indonesia dengan kapabilitas pembiayaan, teknologi, serta kekuatan industri Tiongkok guna merealisasikan proyek riil dan ekosistem industri terpadu yang saling menguntungkan.
Pengembangan kemitraan industri ini menuntut pembentukan ekosistem terintegrasi yang menghubungkan sektor pendidikan, penelitian, industri, serta ketersediaan talenta.