Gagasan ini turut ditegaskan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan. Dia menyoroti pentingnya merajut sinergi antara universitas, ilmuwan, praktisi bisnis, industri manufaktur, dan generasi muda, dengan menempatkan KEK Kura Kura Bali bukan sekadar sentra keunggulan, melainkan wadah interaksi untuk melahirkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi terapan.
“Visi kita harus melangkah lebih jauh. KEK Kura Kura Bali harus menjadi pusat bagi generasi masa depan, rumah bagi talenta dan teknologi masa depan, sekaligus ruang tempat universitas bertemu dengan industri, ilmuwan bertemu dengan pelaku usaha, serta talenta Indonesia, China, Asia Tenggara, dan dunia bekerja bersama untuk menciptakan inovasi” kata Luhut.
Arah pembangunan ekosistem inovasi ini beriringan dengan akselerasi penanaman modal di KEK Kura Kura Bali. Memasuki Semester I 2026, perolehan investasi kumulatif di kawasan tersebut telah menyentuh Rp1,8 triliun dengan daya serap 2.173 pekerja, serta mendatangkan 131.657 kunjungan.
Secara bersamaan, KEK Kura Kura Bali terus diposisikan sebagai simpul ekosistem pendidikan tinggi dan riset terapan. Keberadaan TSEA di kawasan tersebut telah menggerakkan berbagai agenda ilmiah di bidang fisika dan neurosains, serta menginisiasi perhelatan Semiconductors Forum bersama Tsinghua University.
Ke depan, kawasan Kura Kura Bali disiapkan mengawal kelanjutan program strategis di ranah AI, riset dan pengembangan digital, serta penguatan pilar ekonomi digital.
(NIA DEVIYANA)