Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjabarkan bahwa penurunan nominal tersebut didorong oleh serangkaian aktivitas keuangan rutin negara, seperti penarikan global bond pemerintah, penerimaan pos jasa dan perpajakan, pemenuhan kewajiban utang luar negeri, hingga operasi pasar untuk mengawal kurs rupiah.
Secara fungsional, raihan devisa per Mei 2026 ini setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau setara dengan 5,5 bulan impor jika diakumulasikan dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Rasio performa ini dipastikan masih kokoh berdiri di atas standar minimum internasional yang mematok batas aman di kisaran tiga bulan impor.
"Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat USD144,9 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir April 2026," kata Ramdan, Senin (8/6/2026).
(NIA DEVIYANA)