“Lima ini cukup besar sebenarnya. Saya kira kalau kita USD20–30 miliar itu mungkin within the reach, tapi kami kira bisa lebih tinggi lagi dari itu,” tutur dia.
Sigit juga mengatakan Danantara akan mengoptimalkan BUMN yang sudah ada. Jika belum mencukupi, Danantara akan menggandeng perusahaan lain atau membangun kerja sama baru bersama perusahaan lainnya.
Pengembangan industri ini juga akan didukung kolaborasi dengan perguruan tinggi. Danantara menyiapkan skema mapping and matching untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan keahlian kampus, termasuk perguruan tinggi yang berada di sekitar lokasi industri.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengembangan smelter alumina di Mempawah, Kalimantan Barat. Dalam proyek tersebut, perguruan tinggi seperti Universitas Tanjungpura dapat dilibatkan untuk mendukung proses hilirisasi.
Danantara berharap kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau MoU. Kerja sama tersebut ditargetkan berlanjut menjadi kontrak dan proyek yang benar-benar direalisasikan.
Penulis: Magang-Kidung Dhia Fardheena
(Kunthi fahmar sandy)