Seperti Mitsubishi lewat unit Fuso yang hanya mampu memproduksi 20.600 unit, Foton Aumark (13.500 unit), Hino (10 ribu unit), dan Astra Isuzu Canter (900 unit).
"Mereka hanya mampu memproduksi inden unit per bulan. Artinya bahwa kebutuhan kami tidak bisa terpenuhi, dan harganya pun ditawarkan sekitar 25 persen lebih mahal dengan kompetitor yang kami akhirnya berkontrak," ujar Joao.
Meski begitu, Joao dalam setiap sesi pertemuan bisnis dengan produsen mulai Astra hingga Mitsubishi mengklaim melakukan lobi termasuk harga. Namun, semua terbentur pada kalkulasi bisnis, sehingga tidak ada titik temu soal harga di antara kedua belah pihak.
"Seharusnya kami bisa diberikan harga khusus sehingga kami mampu atau kami mau untuk ber-deal dengan mereka. Tapi sampai dengan terakhir, kami tidak mendapatkan atau tidak dikasih kesempatan untuk memberikan dengan harga yang khusus, sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar gitu. Khususnya India," katanya.
(Dhera Arizona)