Sementara di wilayah lain terjadi defisit daya sehingga frekuensi turun dan pembangkit juga ikut lepas dari sistem.
Kondisi tersebut, kata dia, kemudian menimbulkan efek domino yang menyebabkan gangguan meluas dari Jambi, Riau, Sumatera Barat hingga Sumatera Utara dan Aceh.
PLN menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan listrik yang berdampak luas terhadap rumah tangga, kegiatan ekonomi, hingga objek vital di Pulau Sumatera.
Setelah kejadian, ujar Darmawan, PLN langsung melakukan assessment terhadap gardu induk dan jaringan transmisi untuk memastikan tidak ada kerusakan fisik pada infrastruktur kelistrikan. Dalam waktu sekitar dua jam, sistem gardu induk dan transmisi disebut berhasil dipulihkan.
Kondisi padam listrik di Pulau Sumatera juga merupakan dampak dari efek domino bencana banjir bandang yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada beberapa waktu lalu. Sebab, hal ini membuat sebagian kerusakan pada transmisi tower yang roboh atau patah dan belum pulih hingga saat ini.
Darmawan menyebut proses pemulihan dilakukan bertahap mulai dari menyalakan pembangkit, menyambungkan ke sistem transmisi, hingga sinkronisasi ke sistem kelistrikan Sumatera.
"Gardu induk dan sistem transmisi kami sudah pulih. Nah tentu saja langkah selanjutnya adalah bagaimana kami bisa menyalakan kembali pembangkit-pembangkit yang karena domino efek tadi patah," kata Darmawan.
PLN mengakui proses pemulihan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit berbasis gas relatif lebih cepat, yakni sekitar 5 hingga 15 jam. Sementara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara membutuhkan waktu lebih panjang karena harus melalui proses pemanasan boiler dan pengaktifan auxiliary secara bertahap.
"Untuk sistem PLTU batu bara prosesnya membutuhkan waktu yang cukup panjang karena kami harus memanaskan air menjadi uap dan melakukan sinkronisasi satu per satu," katanya.
(Dhera Arizona)