"Kami juga memastikan pengumpulan pajak kami, pendapatan kami lebih baik. Saya sudah melakukan restrukturisasi Ditjen Pajak dan Bea Cukai.Untuk tahun 2026, Indonesia tetap fiskalnya ekspansif. Dengan pendapatan negara sebesar Rp3.000 (triliun) dan lebih defisit sebesar Rp689 (triliun)," imbuhnya.
Dalam kesempatan sebelumnya, Purbaya juga sempat menegaskan soal mesin pendongkrak pertumbuhan ekonomi yang bakal terus digerakkan demi menjaga momentum pemulihan ekonomi.
Sejumlah indikator mikro dan makro menjadi pertimbangan pengambilan keputusan Purbaya. Di antaranya Indeks Kepercayaan Konsumen yang dalam tren positif, kurva konsumsi BBM yang positif, kenaikan penjualan listrik industri, termasuk manufaktur, hingga indeks PMI berada di zona ekspansi.
"Triwulan pertama ini kami akan inject semua stimulus yang ada di pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun yang lain-lain untuk belanja habis-habisan dan memperbaiki iklim investasi supaya dunia usaha juga bisa ekspansi," ujar Purbaya.
(Rahmat Fiansyah)