Ia menegaskan, laju kencang ekspor sektor manufaktur ini membuktikan keberhasilan pergeseran struktur ekonomi nasional menuju produksi komoditas bernilai tambah tinggi.
Kata Budi, peningkatan signifikan pada sektor manufaktur menunjukkan keberhasilan transformasi struktural yang konsisten dijalankan. Indonesia kini mulai bertransformasi dari eksportir bahan mentah ke produsen produk olahan industri bernilai tambah tinggi.
"Hilirisasi ini terbukti menjadi katalis utama yang melipatgandakan nilai ekspor, memperkuat daya saing industri nasional, serta menciptakan dampak berganda bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi domestik,” ujar Budi.
Peningkatan aktivitas ekspor ini berdampak langsung pada neraca perdagangan Indonesia yang kembali membukukan surplus senilai USD3,55 miliar pada Agustus 2026. Surplus tersebut didorong oleh performa sektor nonmigas yang menyumbang kelebihan hingga USD6,09 miliar.
Adapun deretan komoditas andalan penopang ekspor nonmigas pada Agustus mencakup besi dan baja, minyak sawit mentah beserta produk turunannya, dan batu bara, dengan pangsa pasar terbesar mengalir ke China, Amerika Serikat (AS), serta India.