Kondisi tersebut membuat otoritas moneter diperkirakan akan lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan melonggarkan kebijakan suku bunga.
"Jadi investor akan pindah ke dolar US, biasanya mata uang emerging market juga akan melemah, padahal situasi kondisi ekonomi dan juga pasar uang kita juga sedang mengalami tantangan cukup berat. Dan bagi otoritas moneter, ini tentu akan menjadi lebih fokus kepada menjaga rupiah daripada menurunkan suku bunga," ujarnya.
Dia juga mengingatkan dampak konflik bukan hanya pada sektor perdagangan, tetapi juga arus modal. Jika inflasi global meningkat akibat lonjakan harga energi, bank sentral negara maju berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga dana asing keluar dari pasar negara berkembang.
Konsekuensinya, rupiah bisa kembali tertekan, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik, dan Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi bergerak volatil. Di sisi lain, biaya pembiayaan korporasi juga akan semakin mahal.
(NIA DEVIYANA)