sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Gejolak Timur Tengah Belum Reda, Pupuk Indonesia Pastikan Bahan Baku Aman 

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
17/03/2026 14:29 WIB
PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan pupuk nasional tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. 
Gejolak Timur Tengah Belum Reda, Pupuk Indonesia Pastikan Bahan Baku Aman. Foto: iNews Media Group.
Gejolak Timur Tengah Belum Reda, Pupuk Indonesia Pastikan Bahan Baku Aman. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan pupuk nasional tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengatakan, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang memadai untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk bagi petani.

"Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani. Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk," ujar dia dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).

Saat ini kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,8 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus untuk pupuk urea, kapasitas produksi Pupuk Indonesia bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.

Secara fundamental, produksi urea nasional juga memiliki tingkat kemandirian yang terjaga, karena bahan baku utamanya berupa gas bumi dapat dipenuhi dari domestik dengan pasokan dan harga yang sudah diatur oleh Pemerintah. 

Meskipun terjadi eskalasi konflik di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi penting urea global, kondisi tersebut tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea nasional.

“Pupuk Indonesia merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia,” ujar Yehezkiel.

Selain kapasitas produksi, Pupuk Indonesia juga memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku strategis pupuk yang diimpor. Beberapa bahan baku pupuk memang tidak tersedia secara alami di Indonesia, seperti fosfat (P) dan kalium (K) yang menjadi komponen penting dalam produksi pupuk NPK.

Saat ini Pupuk Indonesia memperoleh pasokan fosfat (P) dari negara-negara di kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.

Adapun bahan baku pupuk lainnya yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi konflik di Timur Tengah adalah sulfur (S). Sulfur (S) merupakan salah satu bahan baku yang digunakan untuk memproduksi asam sulfat, yang menjadi komponen pendukung dalam pembuatan pupuk NPK. 

Saat ini sebagian pasokan sulfur memang diperoleh dari negara-negara di Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab (UAE), Qatar, dan Kuwait.
 
Meski demikian, risiko gangguan pasokan relatif dapat dimitigasi karena sulfur juga dapat diperoleh dari negara lain seperti Kanada dan Kazakhstan. Selain itu, sebagian kebutuhan terhadap asam sulfat juga dapat dipenuhi dari sumber-sumber domestik. 

Dengan diversifikasi sumber bahan baku tersebut, Pupuk Indonesia mampu menjaga proses produksi tetap berjalan optimal sehingga ketersediaan pupuk bagi petani tetap terjaga.

Selain melakukan diversifikasi sumber bahan baku, Pupuk Indonesia juga memperkuat manajemen stok bahan baku dengan menjaga ketersediaan fosfat, kalium dan sulfur maupun asam sulfat yang saat ini berada pada tingkat yang mencukupi untuk mendukung produksi. Penguatan manajemen stok bahan baku ini juga menjadi langkah antisipatif terhadap potensi kenaikan biaya logistik akibat meningkatnya harga minyak dunia.

Dari sisi operasional, Pupuk Indonesia juga terus meningkatkan efisiensi energi dan optimalisasi penggunaan bahan baku, melalui program revitalisasi industri yang didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025. 

Program revitalisasi mencakup rencana pembangunan pabrik baru dan peremajaan 7 pabrik dalam waktu 5 tahun ke depan. Program ini memungkinkan optimalisasi kapasitas produksi, sekaligus mendorong penggunaan bahan baku yang lebih efisien.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement