IDXChannel - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sinyal kembali menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, harga BBM nonsubsidi memang mengikuti harga minyak dunia yang berlaku. Namun, ketika harga minyak dunia turun, maka akan ada kemungkinan harga BBM non subsidi juga nantinya ikut turun.
"Kalau nonsubsidi ini kan menyesuaikan dengan harga pasar. Jadi ini yang kita lihat rata-rata dalam satu bulan itu kira-kira berapa (kenaikan minyak dunia), penyesuaian (BBM nonsubsidi) kira-kira berapa," ujarnya saat ditemui di TMP Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Yuliot menerangkan, saat ini pihaknya masih menghitung besaran penyesuaian harga BBM nonsubsidi sambil menghitung kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak dunia untuk kontrak berjangka minyak mentah brent naik 1,22 persen menjadi USD106,56 per barel untuk pengiriman November.
Sementara untuk minyak west texas intermediate (WTI) harganya naik 1 persen menjadi USD93,57 per barel.
"Ada kemungkinan penyesuaian (BBM nonsubdisi)," ujar Yuliot.
Namun, Yuliot memastikan harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan meski harga minyak dunia mengalami kenaikan. Sebagai gantinya, porsi APBN untuk menutup biaya kenaikan harga minyak membesar dari sebelumnya.
Dia menyebut, harga BBM subsidi setidaknya akan ditahan sampai tutup tahun 2026. Tujuannya untuk menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dan menggeliatkan aktivitas ekonomi.
"Jadi kalau untuk pertalite, sudah disampaikan sama Pak Menteri, sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan ini tidak ada kenaikan untuk pertalite, atau untuk BBM subsidi," katanya.
(Dhera Arizona)