William menegaskan, keberlanjutan tidak lagi diposisikan sebagai aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan harus menjadi bagian dari proses bisnis inti dan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Sustainability tidak lagi dilihat sebagai CSR, tetapi harus menjadi bagian dari bisnis proses dan mesin pertumbuhan baru,” katanya.
Fokus kedua adalah pembangunan kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Saat ini sekitar 50 persen populasi Indonesia tinggal di kawasan perkotaan, dan pada 2045 diperkirakan meningkat menjadi 79 persen.
Namun, banyak konsep pembangunan kota belum berhasil diterjemahkan menjadi proyek yang layak investasi.
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, IES akan meluncurkan platform Indonesia City Investment Accelerator, yang bertujuan menghubungkan pemerintah, sektor swasta, dan akademisi agar kebijakan pembangunan kota dapat berubah menjadi proyek investasi yang dapat dieksekusi.
“Kami ingin fokus pada aksi, karena banyak kebijakan pembangunan kota tidak bertranslasi menjadi proyek yang investable,” ujar William.
Sektor ketiga yang menjadi perhatian adalah pekerja migran atau migrant workers, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong lebih banyak tenaga kerja terampil (skilled workers) ke luar negeri.
Menurut William, sektor swasta memiliki ruang besar untuk berpartisipasi apabila didukung kebijakan yang kondusif.
Penulis: Nasywa Salsabila
(Dhera Arizona)