AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Infeksi Omicron Tak Sebabkan Sesak Napas, Ini Penjelasannya

ECONOMICS
Muhammad Sukardi
Rabu, 02 Maret 2022 15:52 WIB
Pada Juni-Juli 2021 banyak rumah sakit yang terpantau kehabisan tabung oksigen. Kondisi tersebut tidak terlihat di gelombang Covid-19 saat ini.
Infeksi Omicron Tak Sebabkan Sesak Napas, Ini Penjelasannya. (Foto: MNC Media)
Infeksi Omicron Tak Sebabkan Sesak Napas, Ini Penjelasannya. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pada Juni-Juli 2021 banyak rumah sakit yang terpantau kehabisan tabung oksigen. Tenda di luar RS pun terpasang saking pasien membeludak dan tak sedikit membutuhkan oksigen untuk bisa tetap bernapas dengan baik.

Kondisi tersebut tidak terlihat di gelombang Covid-19 saat ini atau bisa dibilang pada saat Omicron. Rumah sakit terpantau terkendali dan kasus kehabisan tabung oksigen tidak ada lagi.

Mengapa situasi ini terjadi? Apakah memang varian Omicron tidak menyebabkan sesak napas seperti Delta di tahun lalu?

Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI dr Prasenohadi, Sp.P, menjelaskan bahwa situasi di RS memang sekarang ini tidak sesibuk di gelombang Delta. Kebutuhan akan oksigen pun tidak setinggi di saat gelombang Delta.
 
"Berdasar pengalaman saya di RS, pada masa Juni-Juli 2021 jumlah pasien dengan gagal napas sangat tinggi kemudian diikuti ketidakcukupan oksigen yang akibatnya angka kematian begitu tinggi dibandingkan gelombang Omicron sekarang," papar dr Seno dalam konferensi pers virtual, Rabu (2/3/2022).

Jadi sepertinya, lanjut dr Seno, setiap varian Covid-19 itu memiliki karakternya sendiri yang berakibat pada organ tertentu. Pada kasus Delta misalnya, infeksinya itu dominan pada bagian paru yang paling kecil atau biasa disebut Alveolus.

"Pada infeksi Delta, terjadi peradangan paru yang sangat hebat di area Alveolus. Lalu, terjadi juga pneumonia, proses inflamasi yang hebat atau badai sitokin, terjadi juga edema paru akut, yang akhirnya kebutuhan akan oksigen begitu tinggi. Makanya saat itu kebutuhan ICU pun membeludak," papar dr Seno.

Tapi, situasi gelombang Omicron tidak menyebabkan kondisi-kondisi yang terjadi pada Delta. Di rumah sakit misalnya, situasi terkendali dan tidak membutuhkan tenda darurat karena membludaknya pasien.

Lalu, kalau bicara sasaran infeksi yang diincar Omicron, itu tidak mengarah pada organ paru, kata dr Seno, melainkan sistem pernapasan saluran atas. Makanya, gejala yang banyak dilaporkan saat ini sakit tenggorokan atau batuk-pilek.

"Pada Omicron, efek pada Alveolus tidak begitu jelas atau ringan. Omicron ini sepertinya menyerang saluran napas bagian atas, makanya di RS saya menemukan gejala konfirmasi Covid-19 terbanyak adalah sakit tenggorokan dan pilek," papar dr Seno.

Karakteristik Omicron juga dapat dilihat dari kemampuan menyebar yang sangat cepat. Itu kenapa kasus harian meningkat tinggi, tetapi kalau dilihat dari kondisi klinis pasien, gejala derajat berat hingga kritis itu ada tapi jumlahnya sedikit. 

"Jadi, bisa dibilang tiap varian Covid-19 itu punya karakteristik sendiri, punya target sasaran yang berbeda-beda," terang dr Seno. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD