AALI
9275
ABBA
280
ABDA
0
ABMM
2410
ACES
720
ACST
192
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
815
ADMF
8200
ADMG
177
ADRO
3250
AGAR
310
AGII
2220
AGRO
750
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
99
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
154
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1160
AKSI
272
ALDO
745
ALKA
296
ALMI
308
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
546.99
1.02%
+5.51
IHSG
7186.56
0.74%
+53.11
LQ45
1026.34
0.98%
+9.98
HSI
19763.91
-0.8%
-158.54
N225
28942.14
-0.96%
-280.63
NYSE
0.00
-100%
-15846.79
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,765
Emas
836,469 / gram

Jika Harga Pertalite, Solar, LPG dan Listrik Naik, Program PEN Bakal Sia-Sia

ECONOMICS
Taufan Sukma/IDX Channel
Sabtu, 16 April 2022 21:27 WIB
Perlu hati-hati, karena kenaikan satu jenis saja energi yang diatur pemerintah, seperti LPG 3kg, risikonya terhadap daya beli masyarakat sangat besar.
Jika Harga Pertalite, Solar, LPG dan Listrik Naik, Program PEN Bakal Sia-Sia (foto: MNC Media)
Jika Harga Pertalite, Solar, LPG dan Listrik Naik, Program PEN Bakal Sia-Sia (foto: MNC Media)

IDXChannel - Sejumlah pihak memperingatkan pemerintah untuk tidak gegabah dengan menaikkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar, Liquid Petroleum Gas (LPG) serta Tarif Dasar Listrik (TDL) dalam waktu dekat.

Hal ini lantaran di awal bulan pemerintah telah baru saja menaikkan harga BBM non subsidi jenis Pertamax, yang disinyalir membuat sebagian penggunanya beralih mengkonsumsi Pertalite yang lebih murah dan disubsidi pemerintah.

"(Pemerintah) Perlu hati-hati, karena kenaikan satu jenis saja energi yang diatur pemerintah, seperti LPG 3kg, risikonya terhadap daya beli 40 persen kelompok (masyarakat) berpengeluaran terbawah sangat besar," ujar Direktur Center of Economic and Law Studie (Celios), Bhima Yudhistira, saat dihubungi, Sabtu (16/4/2022).

Dengan daya beli yang sangat terbatas, menurut Bhima, masyarakat kelas bawah tidak memiliki pilihan lain selain tetap memakai LPG bersubsidi karena merupakan kebutuhan utama. Pun, kenaikan harga yang terus dilakukan secara beruntun pada akhirnya akan mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi barang lain, seperti menunda pembelian peralatan rumah tangga, barang elektronik, otomotif, pakaian jadi dan juga kebutuhan lain.

"Daya beli masyarakat sudah pasti melemah. Mereka menahan konsumsi untuk lebih mendahulukan kebutuhan yang lebih prioritas. Akhirnya transaksi ekonomi di masyarakat juga melemah. Padahal sebelumnya kita tahu pemerintah gencar mendorong program pemulihan ekonomi nasional (PEN) agar ekonomi di akar ruput bisa bergerak dan tumbuh. Tapi gara-gara kenaikan (harga), semua jadi melemah lagi," tegas Bhima. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD