"Jam kerja di Vietnam itu melebihi Indonesia, di mana Vietnam 48 jam sementara Indonesia cuma 40 jam. Ini bukan hanya soal tinggi upah, tetapi produktivitaslah yang menjadi kunci utama," kata Shinta.
Kadin memandang bahwa revitalisasi sistem pendidikan dan pelatihan kerja di Indonesia harus segera dilakukan untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Kadin menitikberatkan untuk menyusun ulang skema pengembangan talenta yang tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga berfokus pada efisiensi kerja.
Shinta menilai, dengan menjadikan Vietnam sebagai cermin, Indonesia dapat segera melakukan koreksi dan meniru praktik terbaik yang terbukti efektif. Fokus ke depan adalah menciptakan ekosistem kerja yang tangguh dan memiliki produktivitas tinggi.
"Memang Vietnam ini selalu menjadi satu benchmark atau percontohan untuk kita. Kita belajar bagaimana agar Indonesia bisa menjadi lebih berdaya saing ke depannya," kata dia.
Seturut itu, Shinta menegaskan soal keberhasilan reindustrialisasi tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik pabrik atau angka investasi yang masuk. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada kualitas sumber daya manusia yang diciptakan.