IDXChannel - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) meluncurkan program pelatihan vokasi nasional 2026 bagi lulusan SMA/SMK pada April 2026. Program ini dilaksanakan di 33 Unit Pelaksana Teknis Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (UPT BPVP) dan Satuan Pelayanan (Satpel) Kemnaker yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
"Program pelatihan vokasi nasional 2026 terbagi dalam tiga batch pelatihan, dengan sekitar 20 ribu peserta per batch, dan total sekitar 70 ribu peserta dalam setahun. Ke depan, diharapkan kuota ini dapat terus ditingkatkan oleh Kemnaker,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers Peluncuran Program Pelatihan Vokasi Nasional Tahun 2026, di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Program Pelatihan Vokasi Nasional juga dirancang untuk memberikan skilling, upskilling, dan reskilling kepada para peserta, dengan mengedepankan prinsip link and match.
Prinsip itu memastikan keselarasan kuat antara kurikulum pelatihan dengan kebutuhan dunia usaha atau industri. Pendekatan ini bertujuan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi relevan, adaptif, dan sesuai dengan tuntutan pasar kerja (demand driven).
Bagi para siswa lulusan SMA/SMK/MA atau sederajat yang sudah memenuhi persyaratan, seperti berusia minimal 17 tahun, sudah mempunyai akun SiapKerja, dan sudah lulus dalam tiga tahun terakhir, dapat berpartisipasi menjadi peserta dengan mengakses portal resmi skillhub.kemnaker.go.id.
Adapun para peserta akan mendapatkan benefit seperti bantuan transportasi sebesar Rp20 ribu per hari (lamanya sesuai jangka waktu pelatihan), iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), Sertifikat Pelatihan dan Sertifikat Kompetensi BNSP, serta khusus untuk peserta dari luar kota dapat difasilitasi asrama pada pelatihan tertentu.
Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), jumlah lulusan SMA/SMK tahun ajaran 2024/2025 yaitu sebanyak 3,28 juta.
Menurut BPS, lulusan SMA menyumbang 31,05 juta pekerja atau 20,99 persen dari total pekerja nasional yang berjumlah sekitar 148 juta orang, sementara lulusan SMK berkontribusi 20,80 juta pekerja atau 14 persen dari total pekerja nasional.
Apabila digabungkan, kontribusi lulusan SMA/SMK mencapai sekitar 35 persen dari total pekerja.
Bidang-bidang pelatihan yang bisa diikuti para peserta mencakup Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bisnis dan Manajemen, Pariwisata, Tata Busana, Garmen dan Apparel, Otomotif, Housekeeping, Teknik Kelistrikan, Smart Farming, Konstruksi, Barista, Budidaya Perikanan, Penata Rambut dan Rias Wajah.
Kemudian Memasak, Menjahit Pakaian, Pemeliharaan Kendaraan, Pemandu Wisata, Pemasaran Digital, Keamanan Siber, Instalasi Panel Surya, Pengelasan (Welding), Computer Numerical Control (CNC), Otomasi Industri, Kendaraan Listrik, termasuk pelatihan prioritas Presiden seperti Koperasi Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berbagai pelatihan ini ada yang diselenggarakan secara luring, daring, maupun hybrid dengan lebih 820 kelas pelatihan yang berfokus pada 31 kejuruan.
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan bahwa ini adalah program yang paralel dengan program magang yang sudah dilakukan dan orientasinya adalah lulusan SMA dan SMK.
"Tentu kami mengapresiasi Kemnaker dan semoga para pelajar SMA/SMK bisa mengikuti program yang memperpendek jarak antara pendidikan dengan lapangan kerja. Program ini juga akan terus didorong dan disempurnakan sesuai dengan arahan Bapak Presiden,” kata Airlangga.
(NIA DEVIYANA)