sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Lapor Prabowo, BRIN Sebut Limbah Sawit Bisa Hasilkan Listrik

Economics editor Binti Mufarida
28/10/2026 05:42 WIB
Arif Satria melapor kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif.
Lapor Prabowo, BRIN Sebut Limbah Sawit Bisa Hasilkan Listrik (FOTO:Dok Ist)
Lapor Prabowo, BRIN Sebut Limbah Sawit Bisa Hasilkan Listrik (FOTO:Dok Ist)

IDXChannel - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria melapor kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif.

Limbah industri sawit berpeluang diolah menjadi biogas dan dikonversi menjadi listrik dengan kapasitas energi yang diperkirakan mencapai 3,9 gigawatt (GW).

Arif mengatakan, pemanfaatan limbah sawit menjadi salah satu potensi energi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi nasional. Indonesia memiliki sumber daya limbah kelapa sawit dalam jumlah besar yang berpotensi diolah menjadi energi bernilai tambah.

“Terkait potensi energi masa depan. Tadi kami juga melaporkan kepada Bapak Presiden sejumlah potensi energi yang dapat dikembangkan, salah satunya melalui pemanfaatan limbah sawit menjadi biogas,” ujar Arif di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Menurut Arif, produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Indonesia saat ini mencapai sekitar 328,43 juta ton per tahun. Selain itu, limbah cair dari proses pengolahan kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) di seluruh Indonesia diperkirakan mencapai 229,9 juta meter kubik setiap tahun.

“Jika potensi POME dan tandan kosong kelapa sawit dimanfaatkan dan dikonversi menjadi listrik, kapasitas energi yang dapat dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 3,9 gigawatt. Ini merupakan potensi yang cukup besar untuk menghasilkan energi alternatif dari limbah,” kata Arif.

Potensi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperluas sumber energi di Indonesia.

Pemanfaatan limbah juga memungkinkan industri kelapa sawit menghasilkan nilai tambah dari sisa proses produksi yang selama ini membutuhkan pengelolaan agar tidak mencemari lingkungan.

Arif menjelaskan, pengolahan limbah cair kelapa sawit menjadi biogas memiliki manfaat bagi penyediaan energi sekaligus pengendalian emisi.

POME berpotensi menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca apabila tidak dikelola dengan baik.

Melalui penerapan teknologi yang tepat, limbah tersebut dapat diolah untuk menghasilkan biogas. Gas yang dihasilkan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, termasuk untuk mendukung pembangkitan listrik.

“Mengapa hal ini penting? Selama ini, POME berpotensi menjadi sumber emisi gas metana yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca. Namun, melalui pemanfaatan teknologi untuk mengolah limbah tersebut menjadi biogas, kita dapat mengubahnya menjadi sumber energi alternatif,” ujarnya.

BRIN turut memperkenalkan teknologi Metal-Organic Framework (MOF), yaitu material yang berpotensi menyimpan gas dalam jumlah lebih besar. Inovasi ini diperkenalkan sebagai bagian dari upaya mengembangkan teknologi penyimpanan gas untuk mendukung pemanfaatan energi alternatif.

Arif mengatakan, pengembangan biogas perlu disertai inovasi yang memungkinkan gas tersebut disimpan dan digunakan secara lebih praktis. Dengan begitu, pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada proses produksi di lokasi pengolahan limbah.

"Menurut saya, pengembangan teknologi ini tidak cukup hanya sampai pada produksi biogas. Hal yang lebih penting adalah bagaimana biogas tersebut dapat dikonversi dan disimpan dalam tabung gas,” kata Arif.

Dia menjelaskan, teknologi MOF memiliki potensi untuk mendukung penyimpanan gas dengan kapasitas lebih besar. Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan biogas dalam sistem penyimpanan yang lebih efisien.

“Tadi kami juga telah memperkenalkan teknologi baru bernama Metal-Organic Framework (MOF), yaitu material yang berpotensi menyimpan gas dalam jumlah lebih besar,” ujar Arif.

Pengembangan biogas dari limbah sawit juga berpotensi mendukung upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Arif menyebut Indonesia mengimpor LPG dengan nilai sekitar Rp97 triliun setiap tahun.


Menurut dia, teknologi pengolahan limbah menjadi biogas yang dilengkapi sistem penyimpanan memadai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Pemanfaatan sumber daya domestik diharapkan mampu memperluas pilihan pasokan energi pada masa mendatang.

“Saat ini, Indonesia mengimpor LPG dengan nilai sekitar Rp97 triliun per tahun. Dengan adanya teknologi yang memungkinkan biogas dikonversi menjadi gas tabung, saya kira hal ini dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia pada masa depan,” ujarnya.


(kunthi fahmar sandy)

Advertisement
Advertisement